NABIRE – Kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih menyelimuti Kota Nabire mulai mendorong sejumlah sekolah melakukan penyesuaian kegiatan belajar mengajar. Salah satunya SMAN 2 Nabire yang mengambil sejumlah langkah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan para siswa.

Langkah tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut terhadap imbauan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire agar satuan pendidikan menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi cuaca dan kualitas udara.

Kepala SMAN 2 Nabire, Suryati Mangallo, S.Pd., M.Pd., mengatakan pihak sekolah terus memantau perkembangan kondisi asap serta kesehatan peserta didik dalam menjalankan proses pembelajaran.

“Salah satu tindakan yang kami lakukan adalah mengurangi jam pelajaran, mewajibkan siswa memakai masker dan sering minum air putih. Kami juga meminta siswa membawa tumbler atau botol air minum,” tutur Suryati kepada media ini.

Menurutnya, kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar aktivitas belajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kondisi kesehatan siswa.

Sekolah juga memberikan kelonggaran bagi siswa yang tempat tinggalnya terdampak langsung oleh kondisi asap untuk mengikuti pembelajaran secara daring.

“Jika ada siswa yang tempat tinggalnya terdampak langsung, diizinkan untuk belajar secara daring,” tambahnya.

Meski kondisi udara kurang mendukung, Suryati menegaskan kegiatan belajar mengajar di SMAN 2 Nabire tetap berjalan. Namun, pelaksanaannya dilakukan secara fleksibel dengan mempertimbangkan perkembangan ketebalan asap dan kondisi kesehatan siswa maupun guru.

Pihak sekolah bahkan telah menyiapkan skenario pembelajaran jarak jauh apabila kondisi semakin memburuk dan pembelajaran tatap muka tidak lagi memungkinkan.

“Guru-guru sudah menyiapkan pembelajaran daring jika situasi dan kondisi sudah tidak memungkinkan proses belajar mengajar secara tatap muka,” jelasnya.

SMAN 1 Juga Kurangi Jam Belajar

Penyesuaian serupa juga dilakukan sejumlah sekolah lain di Nabire. SMAN 1 Nabire, misalnya, turut mengurangi waktu kegiatan belajar mengajar sebagai respons terhadap kondisi asap yang masih menyelimuti wilayah kota.

Jika dalam kondisi normal kegiatan belajar mengajar berakhir sekitar pukul 14.20 WIT, kini para siswa sudah diperbolehkan meninggalkan sekolah pada pukul 14.00 WIT.

Langkah tersebut menjadi bentuk kehati-hatian pihak sekolah dalam menghadapi kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya kondusif.

Di tengah kepungan asap, sekolah-sekolah di Nabire kini berada pada posisi harus menjaga dua hal sekaligus: memastikan proses pendidikan tetap berjalan dan memastikan kesehatan peserta didik tidak menjadi korban. (ppn)