Ini Bandara Baru, Ini Baru Bandara
Jumat kemarin saya beli tiket Nabire - Jayapura. Ternyata Bandara Nabire sudah pindah dari Pantai Maf ke Kaladiri. Jarak ke Bandara lama yang biasa ditempuh lima menit dari kantor Papuapos Nabire di Morgo, kemarin ditempuh satu jam lebih. Ini karena jalan sebelum Bandara masih belum selesai semuanya.

Jumat kemarin saya beli tiket Nabire - Jayapura. Ternyata Bandara Nabire sudah pindah dari Pantai Maf ke Kaladiri. Jarak ke Bandara lama yang biasa ditempuh lima menit dari kantor Papuapos Nabire di Morgo, kemarin ditempuh satu jam lebih. Ini karena jalan sebelum Bandara masih belum selesai semuanya.
Melewati Kalibobo, Wonorejo, pasar SP 1 Kalibumi dan lewat SPC dalam kawasan yang masih bernuansa pedesaan. Jelas areal sepanjang jalan nasional dari Bandara baru ini akan jadi kawasan maju di kemudian hari.
Saya diantar pakai mobil Carry berlogo Papuapos Nabire dan Papuapos TV. Driver Cacang Hadi biasa dipanggil Bapa Azhar, membawa mobil dengan santai. Ada Oval, Ahmad dan Samuel Ali ikut mengantar. Gerbang Bandara Kaladiri mulai kelihatan setelah melalui jalan sebelum Bansara yang sedang finishing. Kontraktornya tampak sedang kerepitan, agar pembukaan Bandara Baru ini tidak terkesan setengah-setengah atau dipaksakan.
Postur fisik Bandara Douw Atarure di Kaladiri ini memang lebih tinggi dari Bandara lama di Pantai Maf. Di dalamnya ada dua eskalator turun dan naik. Ada ikon Nabire bentuk ikan Gurano Bintang atau Hiu Paus yang akrab dengan nelayan bagan di Kwatisore. Pedagang oleh-oleh jeruk Nabire mulai membuka stand-nya, begitu juga warung Indomie. Tidak seperti hari pertama kemarin, penumpang kehausan lari cari penjual minuman di warung proyek.
Untuk status baru yang disandang, yakni ibukota Papua Tengah, Bandara Kaladiri cukup refresentatif. Semuanya standar fasilitas modern. Toiletnya bagus. Demikian juga ruang tunggu di lantai dua. Masyarakat tampak gembira mempunyai Bandara baru. Hanya saja, ini harus dirawat oleh kita bersama, agar tetap terjaga kebersihannya.
Bandara baru punya tempat parkir pesawat yang lebih luas. Landasannya tampak masih sedang diperpanjang supaya pesawat berbadan besar dapat mendarat disitu. Kelak masyarakat dapat menikmati jalur pesawat langsung, tidak perlu ke Jayapura terlebih dahulu untuk ke IKN, Jakarta atau Makassar. Nabire akan terkoneksi langsung dengan delapan Bandara berlandasan panjang seperti Sentani, Biak, Merauke, Wamena, Timika, Manokwari, Sorong dan Si Boru Fakfak.
Proyeksi Bandara Kaladiri digagas oleh Bupati AP Youw dalam visi beliau Gerbang Nun Biru. Bupati jenius ini telah meletakkan dasar Ibukota Papua Tengah, saat dulu Timika menolaknya. Beliau berfikir jauh ke dengan Nabire harus menjadi bukan saja kota modern yang maju, tapi tetap tidak kehilangan identitasnya sebagai masyarakat yang guyub dan rukun.
Di tahun 1990-an, transportasi udara di Papua hanya Bandara Biak dan Sentani yang punya landasan panjang untuk pesawat berbadan besar.
Biak menjadi sentral transit, untuk mencapai Sorong, Manokwari, Nabire dan Serui dengan pesawat foker-27 atau Twin Otter dengan maskapai Merpati.
Ketika pesawat lepas landas, landasan memang benar-benar sudah matang. Pesawat Wing's yang melayani rute ke Jayapura dan Timika satu-satunya pesawat setengah besar yang singgah di Nabire. Tak lama lagi setelah landasan diperpanjang, pesawat Lion, Batik atau Garuda dapat menyinggahi Bandara Kaladiri. Ikon baru masyarakat Nabire. Selamat memiliki Bandara baru bagi semuanya.
Bagikan artikel ini



