Jakob Tagi ‘Tak Bawa Uang Pergi, tapi Pulang Sarjana’
DOGIYAI - Warga terbelakang menjadi orang pertama, masyarakat asli Bedu Dipa sekarang Distrik Siriwo ini memiliki berkat dengan kemauan ker
Bagikan
DOGIYAI - Warga terbelakang menjadi orang pertama, masyarakat asli Bedu Dipa sekarang Distrik
Siriwo ini memiliki berkat dengan kemauan keras merantau di Minahasa, Manado
untuk belajar, berlatih dan berkarya menuntut ilmu pada Universitas Kristen
Tomohon pada tahun 1990 dengan modal kemauan
keras dan semangat. Jakob Tagi memberanikan diri menghadap rektor dengan tujuan menjadi petugas servis
keliling kampus. Disamping itu, sebagai petugas penjaga pada perguruan tinggi
tersebut permintaan itu disetujui rektor dengan syarat makan minum ditanggung
sendiri. Sedangkan biaya pendidikan, uang semester ditanggung sekolah. Mantan Kepala Distrik Piyaiye kepada kepada Papuapos
Nabire belum lama ini, Kadistrik
perintis dilantik Bupati Nabire Drs Anselmus Petrus Youw dari Nabire ini dalam benaknya ‘orang terbelakang menjadi orang pertama’.
Program pertama yang dia lakukan di Apogomakida, sekarang Distrik Piyaiye ini
mengirim 10 orang guru honor asal dari Piyaiye PGSD di Manado. Mereka dibiayai
hingga selesai dengan DPA Distrik Piyaiye dan sekarang sudah bertugas di
Sekolah Dasar (SD) Apogomakida Distrik
Piyaiye, SDM di bidang pendidikan membentuk kelompok tani, Kelompok Usaha
Bersama (Kube ) bidang penanaman anggrek
dan buah markisa. Pembinaan dan pengkaderan dengan motto ‘beriman belajar berlatih berkarya’ dengan dasar
keberaniannya dia menghadap Menteri Kehutanan di Jakarta untuk meminta pembayaran ganti rugi (hak ulayat )
masyarakat Piyaiye selama sepuluh tahun beroperasi di wilayah Potowai Buru,
Nariki Apogomakida ketika itu. “Pemerintah tak mampu bayar ‘ilegal logging’ tuntutan
ganti rugi 25 triliun, maka kasus ilegal logging pun ditutup tahun 2010 untuk
sementara,” ujar dia Menteri Kehutanan, Bupati Nabire AP Youw dan Ketua DPRD saat itu Daniel Butu bersama Ketua
Pengadilan pernah bertemu dan kehutanan pernah bertemu di Nabire itu . Berpatokan pada belajar berlatih dan berkarya, akhirnnya kembali dilantik menjadi Kepala BPMK Kabupaten
Nabire tahun 2010 - 2015 ini dan pernah ikut tranning di Kabupaten Malang
tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat
ditunjang dengan berbagai bidang pelatihan lain. Sarjana Pendidikan (S.Pd) jebolan Universitas Kristen Tomohon dan jabatan sekarang non
aktif pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai ini merindukan
bagaimana menata, menghilangkan rumput atau alang-alang di Moanemani mulai dari
halaman rumahnnya sendiri. Di Kediaman rumah dinas Tokapo Moanemani Dogiyai,
pekarangannya penuh dengan tanaman kol, pepaya, ubi jalar dan keladi rawa ini. Orang terbelakang menjadi orang pertama, dasar kemauan semangat dibarengi belajar, berlatih
berkarya dan ditambah beriman. Menata diri ‘Dogiyai Dou Ena’, melawan Dogiyai
Dou Peu menuju Dogiyai bahagia. Alam dan manusia bicara seratus tahun generasi
Dogiyai berikut dalam pengalamannya keliling dengan pohon pinus rumah pribadinya
Potranigra Nabire ini. (don)
Bagikan artikel ini



