IYAGO, kata yang pas jika disebut sebagai kampung yang terlupakan. Kampung ini merupakan dusun palang pertama masuknya peradaban baru lewat misionaris Katolik ke wilayah pegunungan tengah (wisselmeren) dari pantai Selatan Papua khususnya Kokonao, Kabupaten Mimika. Sebab, tim ekspedisi dan misionaris yang masuk ke Pogibado (Modio kini), awal 1950-an sebelum melebarkan sayap pelayanan di wilayah Wisselmeren hingga ke wilayah Migani, dusunnya marga Nokuwo dan Kotouki ini merupakan dusun singgah pertama yang bisa bertemu dengan suku asli di kawasan pedalaman dari Pronggo, Mimika Barat Jauh. Iyago menjadi dusun (kini Kampung) terlupakan, dari Distrik Sukikai Selatan, karena memang letaknya yang sangat, sangat terisolir, berada di balik gunung. Perjalanan dari Modio atau Apogomakida sebagai dua kampung tua yang kini menjadi ibukota Distrik Mapia Tengah dan Distrik Piyaiye ini, memakan waktu jalan kaki selama 4 hari. Demikian juga halnya, jalan kaki dari bibir pantai di Pronggo dan Unito sebagai ibukota Distrik Sukikai Selatan. Sekalipun, Iyago sebagai palang pertama pertemuan antara “orang luar” dengan masyarakat asli, sejak awal perubahan peradaban dengan masuknya misionaris Katolik, Iyago hanya sebagai tempat singgah, tidak ada perhatian untuk menempatkan seorang perintis sebagai pewarta Agama Katolik di kampung ini. Penempatan seorang katekis baru mulai dibuka Pastor Paroki Modio, Pater Jan Peters,ofm dengan menempatkan seorang pewarta sebagai tenaga keterbelenggungan dari buta huruf-aksara dan membuka keterisolasian, pada pertengahan 1970-an. Sejak saat itu, hingga kini belum ada perubahan, hanya seorang katekis melayani umat setempat dengan mengajarkan buta huruf, aksara dan mewartakan Injil sebagai tugas pokoknya. Pemerintah daerah pernah membuka sebuah Sekolah Dasar (SD) di kampung tersebut, namun kini hanya tinggal nama, tidak ada guru yang bertugas di sini. Ketika, Thobias Bunapa, guru asal Iyago diangkat dan ditempatkan sebagai Kepala Distrik pertama di Distrik Sukikai Selatan oleh Bupati  Nabire, AP Youw (sebelum Dogiyai dimekarkan), ia terobos membuka isolasi dan keterbelenggungan di wilayah Selatan (tapal batas antara suku Mee dengan Kamoro di pesisir pantai) dengan membuka lapangan terbang di empat kampung. Salah satunya di Kampung Iyago. Ketika itu, maskapai penerbangan Susi Air telah mencoba tes landing dan jatah beras miskin (raskin) untuk masyarakat Distrik Sukikai Selatan diangkut dengan Susi Air. Kepala Distrik, Thobias Bunapa diganti, pelayanan penerbangan Susi Air tidak beroperasi lagi di daerah ini, wilayah selatan Kabupaten Dogiyai ini sepi dan kembali terisolir. Kampung Iyago yang berada jauh di pedalaman, kembali dikukung oleh keterpencilan dan keterisolasian yang dialami sebelumnya. Batin Yulianus Nokuwo, sebagai anak asli Iyago menilai kondisi Kampung Iyago tidak mau begitu terus, ingin ada perubahan baru. Apalagi Iyago sebagai palang pintu pertama orang Mee di Wisselmeren yang menerima tim pertama, tidak selamanya tetap terisolasi tetapi harus ada perubahan. Yulianus mencalonkan diri sebagai kepala kampung dan terpilih sebagai Kepala Kampung Iyago, Kabupaten Dogiyai. Sejak ia diangkat sebagai kepala kampung, program utama yang digagas Yulianus Nouwo adalah membangun sebuah gedung gereja, sebagai tungku api dan yamewa untuk mengumpulkan warganya lewat gereja, membina iman dan mental. Untuk membuka isolasi yang terkukung selama ini, kepala kampung menggerakkan warganya untuk memperpanjang landasan lapangan terbang yang dirintis Thobias Bunapa untuk membuka akses dengan dunia luar. Pembukaan lapangan terbang dan pembangunan gereja menjadi dua program prioritas yang dikerjakan selama Yulianus menjabat Kepala Kampung (Kakam) Iyago, Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai. Kakam Yulianus Nokuwo, melalui telepon selulernya dari Moanemani, Senin (13/4) menuturkan lapangan terbang tinggal menyelesaikan landasan untuk parkir. “Kalau tes landing, sudah dilakukan oleh Susi Air, tinggal kami selesaikan tempat parkir,” ujarnya. Sedangkan pembangunan gedung gereja, di Kampung Unito, kata Yulianus, pembangunan gedung sudah selesai. Biaya kerja untuk tukang sudah diselesaikan. “Semua bahan untuk gereja, saya bawa dari luar. Hanya kayu saja yang kami ambil dari kampung,” jelasnya. Sementara untuk kesejahteraan masyarakat dan peningkatan taraf hidup, Yulianus mendorong warganya di Iyago dengan membagi daun senk supaya masyarakat membangun rumah sehat. Ia membagi 40 lembar daun senk kepada setiap keluarga dan paku untuk membangun rumah. Menurutnya, memilih program membagi daun senk kepada warga supaya masyarakat yang selama ini tinggal dibawah atap daun pandan dan berdinding kulit kayu, bisa berubah dengan tinggal dibawah atap senk berdinding papan. Dari pembagian bahan rumah, ada warga yang sudah mengganti atap daun pandan dengan senk dan sebagian masih tahan untuk bangun rumah sehat. Untuk menopang membangun rumah sehat, kepala kampung juga sudah menyiapkan bahan bakar untuk mesin sansaw. “Kami sudah beli bahan karet untuk mesin sansaw juga dengan harga mahal, tinggal kerja untuk menyiapkan papan,” jelasnya. Membuka dan menambah ukuran lapangan terbang, membangun gereja dengan sebagian besar kebutuhannya dipasok dari luar dan mendorang pembangunan rumah sehat warga, tidak sedikit dana kampung yang terkuras. Di luar dari biaya bahan material untuk penambahan lapangan terbang, gedung gereja dan rumah sehat yang dikeluarkan, tak sedikit pengorbanan dana angkutan. Sebab, semua bahan yang dibelanja di luar, kecuali kayu, satu-satu lewat angkutan udara. “Semua bahan kami angkut dengan helikopter dari Nabire. Satu kali penerbangan heli dari Nabire ke Iyago, kami bayar Rp 75 juta untuk penerbangan heli Nabire-Iyago pergi pulang,” bebernya. Dan itu, ketika pekerjaan dilaksanakan, Kepala Kampung mencarter heli 1-2 kali penerbangan ke Iyago untuk mengangkut kebutuhan barang. Ia mengatakan, dana kampung yang dicairkan pemerintah melalui 3 tahap, tidak semuanya untuk Kampung Iyago sebagai induk, tetapi juga dibagi kepada empat dusun lain yang tergabung di wilayah kerjanya.  Yulianus memprioritaskan pembangunan di Kampung Iyago karena tidak ingin Iyago tetap terisolir dan terkukung dengan keterasingan tetapi ingin berubah dan mau berkembang seperti kampung-kampung lain yang sudah berubah dan keluar dari ketertinggalan. Semoga. (frans tekege)