PANIAI - Aktivitas perjudian Toto Gelap (Togel) telah dan sedang membudaya dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Paniai. Kebanyakan masyarakat menganggap Togel sebagai satu-satu akses pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Banyaknya penggemar membuat bandar Togel semakin menjamur di pusat kota Enarotali hingga membuka cabang-cabang di pelosok-pelosok kampung.  Bandar di pusat kota bekerja sama dengan orang tertentu dari kampung untuk mempermudah penjudi di kampung. Mereka membawa datang kertas Togel potongan kecil (rekapan) yang setelah diisi dengan angka-angka akan diantar kembali ke bandar sebelum pukul 14.00 WIT. Hal itu dikatakan oleh beberapa petugas Togel, Selasa (15/09/20) pukul 10.20 WIT, di Iyaibutu, Enarotali, Paniai.

“Saya membawa rekapan Togel ke kampung, agar orang-orang kampung bisa main lewat saya supaya tidak rugi ongkos transpotasinya,” katanya.

Terlihat banyaknya masyarakat yang duduk berkelompok disamping kiri-kanan jalan, diteras kios-kios para pendatang, di tempat-tempat bandar Togel menghitung angka sambil malas tahu dengan segala macam aktifitas di sekitar mereka.  Lanjutnya, ini hak masing-masing orang yang tidak boleh dibatasi.

“Kami tidak membatasi mereka yang mau main Togel di kota, rekapan togel yang kami bawa untuk mereka yang tinggal di kampung,” jelasnya.

Setiap hari para petugas Togel ini harus pulang pergi sehingga mulai kerja sejak pagi sekitar pukul 07.00 sampai dengan 13.00 WIT. Karena sebelum pukul 14.00 WIT rekapan harus ada ditangan bosnya. Mereka kerja Togel sampai pulang sore. Ongkos kerja mereka tergantung besar-kecilnya pemasukan sehingga diusahakan harus banyak orang yang pasang angka lewat mereka.

“Buka bandar di kampung dari pagi sampai siang jam 1 siang. Kalau terlambat, bos tidak akan bayar orang-orang menang sio. Jadi sebelum jam 14.00 WIT harus antar rekapan. Sekarang banyak bandar jadi ongkos kerja paling besar 100.000. Kalau dulu, paling besar 500.000. kami berusaha agar banyak orang pasang angka lewat kami,” jelasnya lagi.

Ongkos kerja yang didapat ini pun, lanjutnya tidak diambil, hanya memasang tebakan angka-angka. Harus menunggu sampai angka keluar, namun kebanyakan rugi. 

“Ongkos kerja yang bos kasih, kami pasang kembali angka dan sio, sering menang, tetapi banyak ruginya. Kalau menang, belanja kebutuhan hidup kami,” akunya.

Rasa ingin cepat kaya dengan hasil uang tebakan angka-angka ini membuat masyarakat Paniai semakin tergiur. Kerja mengolah tanah di kampung halaman mereka dianggap hanya membuang-buang waktu. Iming-iming cepat kaya inilah yang mendorong masyarakat setiap hari mondar-mandir di sepanjang jalan hingga pulang malam. Tidak tahu anak sedang apa, istri sedang begaimana dan suami sibuk apa, semuanya ketemu pada saat mau tidur. Banyaknya kawin cerai, anak putus sekolah dan sebagainya pun terjadi dimana-mana akibat rasa ingin cepat kaya ini.(tek/eby)