Kebijakan Banyak Libur, Guru Dipaksakan Tuntaskan Target Kurikulum
NABIRE - Dengan adanya kebijakan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Rise dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), banyak libur bagi anak sekolah di awal semester genap tahun pelajaran 2024/2025 ini, terkesan guru dipaksakan untuk menuntaskan target kurikulum.

NABIRE - Dengan adanya kebijakan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Rise dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), banyak libur bagi anak sekolah di awal semester genap tahun pelajaran 2024/2025 ini, terkesan guru dipaksakan untuk menuntaskan target kurikulum.
Misalnya di awal semester genap memasuki awal bulan puasa juga ada libur bagi anak sekolah yang berlangsung selama seminggu, sementara nanti akan ada libur lagi yang dimulai dari 21 Maret hingga 8 April atau kurang lebih ada 20 hari libur.
Sehingga pihak sekolah menilai hal ini merupakan kebijakan yang turun dipertengahan jalan dan kebijakan dapat memaksakan guru untuk menyelesaikan capaian target kurikulum yang jelas-jelas bertentangan dengan kalender pendidikan.
Dikatakan Kepala sekolah SMP Negeri 4 Nabire, H. Suwandi, S.Pd.,M.Pd, kepada Papuapos Nabire, Selasa (8/3/25) di ruang kerjanya seraya menambahkan, bukan saja guru yang dipaksakan menuntaskan target kurikulum, tetapi para peserta didik pun dipaksakan akibat dari kebijakan yang diberlakukan di tengah jalan.
Untuk itu, diharapkan kepada pemerintah pusat dalam hal ini Kemendikbudristek RI agar tidak lagi membuat kebijakan banyak libur, apalagi di pertengahan jalan, karena pendidikan itu berlangsung dengan berpedoman pada kitab suci yang disebut kalender pendidikan.
Karena dalam kalender telah dihitung dalam satu tahun ada 365 hari, sementara ketentuan hari efektif belajar hanya 250 sampai 255 hari, sisa dari itu merupakan hari libur nasional, yaitu hari minggu dan hari libur lainnya.
Dan jika ada kebijakan libur di pertengan jalan seperti ini, berarti para guru sudah tidak lagi melaksanakan tugas mengajar sesuai dengan kalender pendidikan dan terpaksa harus dipaksakan untuk bisa menuntaskan target kurikulum.(des)
Bagikan artikel ini



