NABIRE - Konflik antar dua kelompok yang terjadi di Topo beberapa hari lalu yang sempat mengganggu Kamtibmas di Kabupaten Nabire hingga menimbulkan korban jiwa, lambat laun mulai ada titik terang. 

Akar persoalan dalam pertikaian antar 2 kelompok masyarakat itu, walaupun belum sepenuhnya tuntas, setidaknya telah diupayakan oleh pihak terkait, dalam hal ini Pemda Nabire dibantu aparat keamanan TNI/Polri berangsur-ansur mulai kondusif.

Ada beberapa poin yang telah disepakati bersama, pada rapat dan mediasi yang digelar di Mapolres Nabire, Selasa siang kemarin. Yakni soal pencabutan Surat Pelepasan Tanah bernomor 287/BMA-SW/BAP/IX/14 seluas 1000x3000 hektar. tertanggal 17 September 2014. 

Yang kedua, pemulangan beberapa masyarakat dari Suku Mee dan keluarga korban, baik yang berdomisili di Nabire maupun di kabupaten tetangga, seperti Dogiyai, Deiyai dan Paniai.

Proses pemulangan warga ini, sempat terjadi miskomunikasi pada hari Rabu kemarin, dimana ada beberapa oknum masyarakat yang sempat melakukan pemalangan jalan di sekitar daerah Bumiwonorejo guna meminta sejumlah uang untuk balik ke kampung halamannya.

Dan aksi pemalangan jalan ini sempat direspon cepat oleh pihak Polres Nabire. Dengan membersihkan sejumlah saran yang digunakan warga saat memalang dan memalak warga yang melintas di daerah tersebut.

Hal lain mengenai upaya pencarian jasad salah satu cara warga dari Suku Lanny atau Dani yang belum ditemukan. Soal ini dari pihak pemerintah daerah dan aparat keamanan akan menfasilitas. 

Sambil menunggu proses penyelesaian hingga perdamaian, kedua belah pihak diminta dan sangat diharapkan dapat menahan diri serta tidak membuat gerakan tambah, lantaran menyangkut persoalan sengketa tanah dan lainnya akan dibentuk tim ataupun setidaknya upaya Pemda Nabire melalui Bupati Mesak Magai akan memanggil pihak berkompeten secara pribadi.(wan)