Martinus Taa Kembangkan Alphukat Red Vietnam
NABIRE – Martinus Taa kembangkan bibit unggul untuk tanaman perkebunan, alphukat jenis Alphukat Red Vietnam di Nabire. M Taa mengembangkan bibit unggul, alphukat jenis Red Vietnam ini dengan teknik sambung pucuk (samcuk).

NABIRE – Martinus Taa kembangkan bibit unggul untuk tanaman perkebunan, alphukat jenis Alphukat Red Vietnam di Nabire. M Taa mengembangkan bibit unggul, alphukat jenis Red Vietnam ini dengan teknik sambung pucuk (samcuk).
Alumnus Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Cenderawasih di Manokwari (kini Universitas Papua = Unipa) ini meniti pengembangan bibit unggul tanaman perkebunan tersebut karena, prospek bisnis alphukat sudah mendunia, setelah para ahli mengungkap khasiat kandungan buah ini bermafaat bagi kesehatan manusia, termasuk diet.
Martinus Taa di kediamannya, Minggu (24/7) sore mengungkap sekalipun baru mulai dikembangkan bibit alphukat red Vietnam awal tahun 2022, sudah banyak pemintaan bibit unggul tersebut dan itu sebagian besar dari luar Papua. Ada juga permintaan dari Papua seperti Jayapura dan Sorong. Permintaan local kurang karena sebagian masyarakat di daerah ini belum begitu mengenal alphukat sehingga tidak banyak warga yang menanam alphukat.
Menurutnya, kelebihan dari bibit unggul ini, bias panen setelah berumur lima tahun, pucuknya merah sehingga saat banyak pucuk baru kelihatan merah, buahnya saat masih muda kelihatan merah. Kalau sudah tua, kulitnya akan terlihat kemerah-merahan.
Untuk mengembangkan bibit unggul tersebut, aparat sipil Negara (ASN), Taa berkreasi inovasi baru untuk mengembangkan bibit unggul tanaman perkebunan ini dengan menyambung pucuk. Ia meracik bibit unggul tersebut dari bibit alphukat biasa (lokal), lalu entris (pucuk)-nya ditempelkan pucuk alphukat red Vietnam.
Salah satu kelebihan dari bibit ini, percabangan dari bawah, tidak seperti percabangan alphukat lain dari atas. Alphukat red vietnam, mampu berbuah ketika dahannya kuat dan tidak membutuhkan waktu lama. “Umur 4-5 tahun, Red Vietnam bias berbuah. Kalau alphukat lain, biasa lebih dari 6 tahun ke atas,” jelasnya.
Ketika ditanya perbedaan antara alphukat red Vietnam dengan alphukat jenis lain, Taa menjelaskan, alphukat Aligatur buahnya lebih hijau dan lebar. Sementara alphukat Pluang, buahnya agak lonjong. Sedangkan buah alphukat red Vietnam, buahnya besar dan bercabang lebih besar. Taa mengembangkan bibit unggul jenis alphukat Aligatur dan Pluang sejak 2 tahun lalu di Nabire.
Taa mengungkap, termotivasi untuk mengembangkan inovasi baru untuk mencari bibit unggul aphukat setelah membaca beberapa sumber ternyata peluang pasar sangat terbuka. Manfaat dari alphukat ternyata bermanfaat bagi manusia terutama untuk perawatan kulit dan diet. Sebab itupula, pada masa sekarang ini orang ramai-ramai menanam dan mengembangkan alphukat. Oleh karena itu, pengembangan bibit unggul alphukat red Vietnam ini juga untuk membantu masyarakat dengan pemilihan bibit alphukat.
Ketika ditanya kesulitan yang dihadapi mengembangkan bibit unggul, Taa mengatakan kesulitannya mendapat bibit alphukat lokal. Sekalipun ada alphukat di pasar, tetapi karena panen saat muda supaya bisa bertahan lama sehingga susah untuk jadikan bibit. Karena biji dari buah muda tidak bias dijadikan bibit. Oleh sebab itu, ia mengatakan belum berani promosi.
ASN dari Dinas Kehutanan Provinsi Papua ini memberi solusi dan saran untuk mengembangkan tanaman perkebunan di daerah ini. Untuk mendapat hasil yang maksimal tergantung dari pemilihan lahan. Lahan yang ada disesuai dengan tanaman yang cocok dengan kondisi lahan. Selanjutnya, pemilihan bibit agar tidak asal bibit tetapi memilih bibit yang baik, tanaman yang juga di tata dalam lahan agar tidak sia-sia seperti menjaga jarak. Dan perawatan tanaman juga perlu diperhatikan, apabila sudah ditanam. (ans)
Bagikan artikel ini



