NABIRE - Masyarakat Toraja yang ada di Kabupaten Nabire meminta agar kematian dr. Mawarti Susanti, dokter spesialis paru di Kabupaten Nabire, harus diusut tuntas dengan seluas-luasnya.  Karena melihat dan mendengar wawancara Kapolres Nabire atas pengakuan pelaku, yang disampaikan pelaku dinilai tidak masuk akal. Sebab dr. Mawarti Susanti bukan pengelola keuangan. Tetapi dr. Mawarti Susanti selaku seorang dokter kontrak  spesialis paru yang selama ini mengabdikan diri berjuang untuk menyelamatkan masyarakat Nabire dari penyakit Covid-19.

Untuk itu diharapkan penyampaian pelaku harus diusut tuntas. Karena persoalan honor di RSUD Nabire bukan dr. Mawarti Susanti yang menentukan. Tetapi diatur oleh pengelola keuangan/bendahara pengelola keuangan lainnya.

“Kalau dendam, dan karena honor pelaku dikurangi dan terlambat bayar setiap bulan, maka bukan urusan dr. Mawarti Susanti. Dengan kematian dr. Mawarti Susanti, masyarakat Toraja mengharapkan betul-betul dibuka kasus kematiannya sehingga masyarakat Toraja bisa menerimanya,” ujar Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Kabupaten Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd kepada Papuapos Nabire, akhir pekan lalu.

Kata dia, dengan dibukannya penyebab kematian dr. Mawarti Susanti yang sesungguhnya, bisa diterima oleh masyarakat. Hasil pengakuan saat ini, belum memuaskan masyarakat Toraja. Karena masalah keuangan bukan urusan dr. Mawarti Susanti.

Dirinya selaku Ketua IKT di Nabire meminta agar kasus kematian dr. Mawarti Susanti, dokter spesiialis paru harus dibuka lebarlebar dan dituntaskan sesuai jalur hukum bagi siapapun dia. (des)