Memahami Pengorbanan dan Cinta Kasih tanpa Pamrih
NABIRE - Perayaan Misa Kamis Putih yang masuk dalam salah satu perayaan Tri Hari Suci bagi umat Katolik dimaknai sebagai momentum agar umat Kristiani memahami pengorbanan dan mengasihi sesama, tanpa pamrih dengan penuh kerendahan hati, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada malam perjamuan terakhir.

NABIRE - Perayaan Misa Kamis Putih yang masuk dalam salah satu perayaan Tri Hari Suci bagi umat Katolik dimaknai sebagai momentum agar umat Kristiani memahami pengorbanan dan mengasihi sesama, tanpa pamrih dengan penuh kerendahan hati, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada malam perjamuan terakhir.
Pastor Yuvensius Auki Iyabii Tekege, Pr sebagai Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Antonius Padua Bumiwonorejo Nabire mengatakan, dalam perayaan Kamis putih, ada ritus pembasuhan kaki yang berarti Yesus memberikan teladan sekaligus tugas perutusan untuk saling mengasihi dan mencintai tanpa pamrih, dengan kerendahan hati tanpa membeda-bedakan.
"Dalam ritus pembasuhan kaki di perayaan Kamis Putih, kita semua diajarkan untuk saling mengasihi tanpa mengharapkan balasan apalagi untuk segala sesuatu yang kita lakukan dengan pengorbanan yang tulus," kata Pater Yuven usai Misa Kamis Putih di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Bumi Wonorejo Nabire, pada hari Kamis (28/3/2024).
Ia menjelaskan, Kamis Putih juga merupakan perayaan pengenangan akan perjamuan malam terakhir yang dirayakan oleh Yesus bersama murid-muridnya.
"Selain pengenangan, juga Kamis putih adalah perjamuan penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah, yaitu pengorbanan di Salib," jelas pastor yang sering disapa Pastor Auki Iyabii.
Menurutnya, dalam perayaan Kamis Putih juga, Tuhan Yesus memberi makan sebagai perjamuan persaudaraan dan persahabatan dalam Kristus Yesus.
"Jadi, saya harap umat dapat menghayati cinta Tuhan, yakni cinta kasih di dalam hidup setiap hari di lingkungan sekitar dengan memberikan pelayanan yang tulus seperti yang dilakukan oleh Yesus ketika membasuh kaki murid-muridnya pada malam perjamuan terakhir," ungkapnya.
Dalam tradisi Katolik, Kamis Putih memiliki makna yang mendalam, karena dirayakan sebagai peringatan terakhir dari khidmat Yesus Kristus sebelum disalibkan yang dapat diartikan juga sebagai malam refleksi diri di hadapan sakramen Maha Kudus untuk menghidupkan kasih dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.
Usai Misa Kamis Putih dilanjutkan dengan Ibadat Tuguran atau Vigili bagi umat yang ingin berdoa secara pribadi dan kelompok di depan Sakramen Maha Kudus.(modes)
Bagikan artikel ini



