Misa Perdana Adalah Peristiwa Iman, Bukan Perjuangan Manusia
NABIRE - Perayaan misa syukur ini merupakan peristiwa iman, bukan peristiwa perjuangan manusia. Ini bukti kasih yang luar biasa dari Tuhan terlebih khusus untuk umat Papua sejarah dalam gereja katolik di Papua. Demikian dikatakan Uskup Keuskupan Jayapura, Mqr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr, saat memimpin misa syukur.

NABIRE - Perayaan misa syukur ini merupakan peristiwa iman, bukan peristiwa perjuangan manusia. Ini bukti kasih yang luar biasa dari Tuhan terlebih khusus untuk umat Papua sejarah dalam gereja katolik di Papua. Demikian dikatakan Uskup Keuskupan Jayapura, Mqr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr, saat memimpin misa syukur.
Kata Uskup Yanuarius, pada perayaan ini juga kita akan mendengarkan ajaran Yesus kepada kita supaya kita dapat berkelakuan baik, supaya kita dapat bermoral yang baik, supaya seorang kristen dalam melaksanakan hidup dan tugas kita.
Dalam kotbahnya Uskup mengatakan, kita harus melawan kebiasaan buruk dalam adat kita maupun juga dalam tantangan bermasyarakat, kebiasaan-kebiasaan yang merugikan diri, merugikan orang lain. Karena itu mari kita mendengarkan Sabda Tuhan yang mengajak kita supaya Sabda Tuhan kita jadikan sebagai pedoman pegangan dalam hidup pribadi maupun dalam hidup berkeluarga.
Dikatakan Yanuarius Theofilus Matopai You, dalam kehidupan mengereja supaya kita selalu melaksanakan apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita. Namun sering kali kita tahu apa yang menjadi kehendak Allah tetapi dengan sengaja maupun tidak sengaja dengan sadar maupun tidak sadar kita lalai melakukan kehendak Tuhan. Untuk itu kita mohon ampun atas kelalaian dan kelemahan kita.
“Kita mengetahui aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Karena itu Yesus katakan dalam Injil tadi persinya sangat panjang dia datang ke dunia, bukan untuk menghilangkan dan juga mengetahui dan tau aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Karena itu Yesus katakan dalam injil tadi bukan menghilangkan hukum yang ada dalam bangsa Yahudi tapi datang untuk mau menggenapkan, mau memperbaharui, mau menyepurnakan hukum kebiasaan adat istiadat yang ada dalam bangsa Yahudi,” ujarnya.
Agar supaya terjadi sesuai dengan kehendak Allah, agar supaya manusia menjadikan pedoman, pedoman hidup dalam mengatur moral, pedoman hidup dalam mengatur hidup baik dan buruk dalam perilaku manusia, dalam perbuatan manusia. Demikian juga Yesus mengajarkan kepada kita supaya kita punya adat dan budaya yang sudah punya dalam suku kita masing-masing perlu kita perbaharui, perlu kita sempurnakan, perlu kita sesuaikan dengan injil, dengan firman Tuhan. Bilamana ada yang bertengan dengan firman Tuhan dengan injil perlu kita perbaiki, perlu kita sempurnakan jangan kita masih pegang adat yang tidak baik.
“Jangan kita pegang perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Ada beberapa contoh yang Yesus kasih tadi dalam bacaan injil. Satu contoh tadi tidak dibacakan dalam injil yang saya mau katakan adalah Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari sabat padahal pada hari sabat sesuai dengan hukum taurat dilarang. Hukum taurat melarang orang Yahudi melakukan sesuatu pada hari Sabat itu hari Tuhan dilarang untuk melakukan sesuatu tapi Yesus senaja melanggar peraturan itu, bila ada orang sakit pada hari sabat Yesus menyembuhkannya,” terangnya.
Bila ada orang berdosa datang pada hari sabat kepada Yesus, Yesus mengampuninya maka banyak orang ahli taurat farisi tidak senang Yesus orang ini dia melawan hukum taurat karena ini juga menjadi satu alasan mereka untuk mensengsarakan dia. Tapi bagi Yesus adalah berbuat baik, melakukan perbuatan kasih juga pada hari sabat adalah satu hal yang harus dilakukan, bila hari sabat yang orang sakit, susah, lapar, perlu ditolong.
Sehingga karena mengasihi sesama, karena berbuat baik kepada sesama maka peraturan adat dilawan dan dilanggar oleh Yesus. Karena hukum Yesus kasih adalah lebih penting di atas segalanya.
Dari itu kita belajar bagaimana kita mengasihi sesama terutama sesama yang susah, sesama yang sakit, sesama yang menderita, sesama yang punya masalah, tanpa beda-bedakan tentang Papua dan nPn papua tentang asli dan non asli tidak ada soal tidak perlu dibeda-bedakan Yesus mengajarkan kepada kita harus mengasihi, harus membantu, kepada sesame. (modes)
Bagikan artikel ini



