NABIRE - Kepala Suku Besar Wilayah Adat Meepago, Melkias Keiya, SH, berpendapat, momentum Idul Fitri 1447 H/2026 Masehi, kirannya menjadi momentum dan juga titik penguatan persatuan, perdamaian dan toleransi antar semua umat beragama yang ada di wilayah adat Meepago, Provinsi Papua Tengah.

Dalam keterangannya kepada Papuapos Nabire di akhir pekan lalu, dirinya menjelaskan perayaan Idul Fitri merupakan hari besar umat Muslim, namun memiliki makna universal yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Idul Ftri bukan hanya milik umat Muslim semata, tetapi menjadi kesadaran kita bersama dalam membangun toleransi, saling menghormati dan menjaga keharmonisan hidup antar umat beragama di Papua Tengah,” ujarnya.

Melkias Keiya juga menambahkan, nilai–nilai seperti saling memaafkan, kebersamaan dan kepedulian sosial harus menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih di tengah beberagaman suku, agama dan budaya yang ada bagi seluruh masyarakat di wilayah Meepago.

Selain adanya pesan persatuan, Keiya juga menyampaikan imbauan tegas terkait Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Di mana dirinya meminta untuk meningkatkan kewaspadaan sepanjang Jalan Trans Nabire –Ilaga mengingat kondisi keamanan dan geografis yang kini memerlukan perhatian serius semua pihak.

Keiya juga mengharapkan masyarakat menghindari yang namanya minuman beralkohol yang berpotensi memicu gangguan Kamtibmas dan tindakan kriminal lainnya. 

“Marilah menjaga hubungan harmonis antar suku serta menghindari konflik yang dapat merusak persatuan dan stabilitas sosial, mengedepankan pendekatan adat, dialog dan nilai kekeluargaan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi di tengah–tengah masyarakat,” tambahnya.

Ditekankan Melkias, stabilitas keamanan merupakan tanggung jawab bersama, sehingga diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif, dengan tidak melakukan perbedaan suku agama dan budaya di seluruh tanah Meepago.(des)