NABIRE - Kepala Dusun 1 Kampung Lagari Jaya Distrik Makimi, Baldus Rumbobiar secara tegas mengatakan, pembangunan Pasar Swadaya Kampung Lagari Jaya bukan untuk meminta-minta pajak kepada masyarakat, tetapi pasar swadaya ini dibangun guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Distrik Makimi, karena kami menilai selama 20 tahun adanya pembukaan lokasi transmigrasi di wilayah Distrik Makimi belum ada pembangunan pasar yang layak.

Memang pada tahun 2006 pemerintah telah membangun pasar di seputar pertigaan, namun pasar tersebut semenjak dibangun hingga sat ini tak digunakan atau dipakai.

Sehingga terkesan pemerintah daerah Kabupaten Nabire selama ini hanya bermain–main dengan uang negara, karena pasar dan sejumlah Ruko-ruko yang dibangun tidak digunakan dan kini dipagari rumput dan pohon.

Demikian dikatakan Baldus Rumbobiar kepada Papuapos Nabire, Sabtu (27/6), di seputar Pasar Swadaya Masyarakat Kampung Lagari Jaya seraya menambahkan, kami bukan membangun pasar yang permanen, tetapi dengan dana sendiri kami bangun pasar yang layak pakai.

“Dulunya kita lihat pasar yang ada di Kampung Lagari Jaya ini seperti rumah–rumah kuburan yang tidak diurus, sementara pasar ini sangat penting bagi kehidupan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” terangnya.

Untuk itu, pada saat pasar ini digunakan, setiap penjual ditagih uang senilai Rp2.000 per orang, dimana uang atau dana tersebut digunakan untuk biaya pembersihan dan kelanjutan pembangunan.

Dari dana yang dikumpul di pasar ini dikelola langsung oleh 4 orang,  yakni Petrus Purwanto, Saul Manasi, Yoel Imbiri dan Aloi Matheus yang tugasnya sebagai penjaga pasar untuk menjaga kebersihan.

Dan pembangunan pasar ini langsung dibiayai Baldus Rumbobiar dengan dana  atau uang pribadi yang dapat digunakan untuk pembelian kayu 18 kubik, pembelian atap senk, paku dan biaya penimbunan sebanyak 101 kubik pasir koral dan biaya atau ongkos para tukang.

Untuk itu, selaku Wakil Ketua Dewan Adat hanya meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait harus bicara dengannya secara baik–baik soal pasar yang ada di Kampung Lagari Jaya ini. 

Sebab ini sangat aneh akan tetapi nyata di mata kita semua, dimana seorang tokoh kampung bisa membangun pasar dengan biaya sendiri, demi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Selama ini pemerintah daerah Kabupaten Nabire telah membangun dua pasar, akan tetapi pasar yang ada di Kampung Biha (SP1), kalau hujan dan angin pasti masyarakat basah dan kalau panas pasti jualan para penjual di sinari matahari.

Sementara pasar yang ada di ruas jalan masuk ke Kampung Lagari Jaya dan Kampung Biha hingga saat ini belum difungsikan atau digunakan, sehingga terkesan pemerintah daerah hanya bermain–main dengan uang negara.

Dan selaku pribadi yang membangun pasar di Kampung Lagari Jaya ini, dirinya tidak ingin hasil pajak atau pendapatan yang didapat dari para penjual dapat dibagi dua, tetapi pemerintah daerah dan instansi terkait harus cari solusi lain agar bisa berteemu dan dibicarakan baik-baik.(des)