Perayaaan Paskah Kamis Putih Ditandai Pembasuhan Kaki
NABIRE - Umat Katolik di Paroki ST. Yosep Nabire Barat merayakan Pekan Suci Hari Raya Paskah Kamis Putih, ditandai dengan pembasuhan kaki murid-murid-Nya. Pantauan awak media, Kamis(17/4/25), bertempat di Gereja Katolik Paroki St. Yosep Nabar pada pukul 06.00 WIT.

NABIRE - Umat Katolik di Paroki ST. Yosep Nabire Barat merayakan Pekan Suci Hari Raya Paskah Kamis Putih, ditandai dengan pembasuhan kaki murid-murid-Nya. Pantauan awak media, Kamis(17/4/25), bertempat di Gereja Katolik Paroki St. Yosep Nabar pada pukul 06.00 WIT.
Kata Pastor Samuel Pr, dalam kata pengantarnya, Kamis Putih hadir sebagai momen penting akan mengingat tiga dasar kehidupan Kristiani, kasih, pelayanan dan pengorbanan.
Di tengah budaya yang cenderung individualis, Yesus menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk melayani dan merendahkan diri.
Ia, sang guru dan Tuhan, membasuh kaki murid-murid-Nya suatu tindakan yang secara budaya saat itu hanya dilakukan oleh budak.
“Kamis Putih adalah malam di mana Yesus mengubah makna pelayanan, otoritas dan kasih melalui tindakan-Nya yang paling mengguncang, membasuh kaki murid-murid-Nya,” ujar pastor.
Sebelum dunia dijadikan, ia sudah mengasihi kita (Yoh 17:24) dan kini, di Kamis Putih, ia membuktikannya dengan cara yang tak terduga.
Dalam budaya Yahudi, membasuh kaki adalah tugas hamba bukan Yahudi, tetapi Yesus mengambil peran itu. Ia membalikkan logika dunia. Kekuasaan sejati adalah pelayanan.
Kemuliaan sejati ada dalam kerendahan hati. Petrus menolak dibasuh kaki karena gengsi dan salah paham akan kekudusan. Yesus menjawab: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku. Kita harus ‘menerima’ kasih Allah sebelum mampu memberi,” tambah pastor.
Kesucian bukan soal pantas/ tidak pantas, tetapi bersedia dibersihkan oleh Tuhan.
Pertanyaan refleksi:
Adakah area dalam hidup di mana kita, seperti Petrus, menolak disentuh Tuhan karena merasa ‘sudah cukup suci’?. Yesus tidak hanya berkhotbah tentang kerendahan hati ia menjadikan diri-Nya teladan.
Gereja melanjutkan ritus ini setiap Kamis Putih bukan sebagai drama, tetapi sebagai komitmen bahwa kaki yang kotor (dosa, kelemahan manusia) adalah medan pelayanan.
“Siapakah ‘kaki yang berdebu’ dalam hidup kita orang yang kita anggap hina, tetapi dipanggil untuk kita layani. Kita dipuaskan oleh Tubuh Kristus agar kuat membasuh kaki sesame,” lanjutnya, tanpa pembasuhan kaki, ekaristi bisa menjadi ritualisme, tanpa ekaristi, pelayanan bisa kelelahan.
“Sebagai petugas gereja, saya ingatkan. Marilah kita merayakan Kamis Putih bukan hanya dengan misa meriah, tetapi dengan hati yang siap melepas jubah dan pergi ke tempat yang tidak nyaman seperti Yesus. Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kaki,” pungkasnya.(modes)
Bagikan artikel ini



