Sekolah Sepanjang Hari, Terobosan Meki Nawipa untuk Pendidikan

NABIRE - Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, resmi memperkenalkan program unggulan bertajuk Sekolah Sepanjang Hari sebagai langkah konkret meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayahnya. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan ganda, yakni rendahnya kualitas pendidikan dan kurangnya pemenuhan gizi bagi anak-anak di Bumi Cenderawasih.
Meki menegaskan bahwa inovasi ini merupakan pendekatan yang telah disesuaikan dengan kondisi sosial dan geografis masyarakat lokal. Selain fokus pada aspek kognitif, program ini secara strategis mendukung visi nasional terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat.
Dalam sebuah sesi talk show bersama jurnalis senior Andy Noya, Meki Nawipa mengungkapkan bahwa konsep ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap realitas kehidupan anak-anak di kampung. Banyak dari mereka harus menghadapi keterbatasan fasilitas dasar saat berada di lingkungan rumah masing-masing.
Menurutnya, penerapan sistem asrama secara menyeluruh di seluruh wilayah Papua Tengah bukanlah perkara mudah. Tantangan logistik dan infrastruktur menjadi hambatan utama jika pola asrama dipaksakan tanpa mempertimbangkan kondisi spesifik daerah yang sangat dinamis.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah pun merancang Sekolah Sepanjang Hari (SSH) sebagai solusi yang lebih kontekstual dan realistis. Program ini menjadi jembatan agar kebijakan nasional seperti MBG tetap bisa berjalan efektif meskipun sarana pendukung di rumah tangga masih sangat terbatas.

"Jika program MBG langsung diterapkan dari pusat, sementara anak-anak datang dari rumah dengan berbagai keterbatasan, maka sistem asrama menjadi sulit diterapkan. Karena itu, kami membuat konsep sekolah sepanjang hari," ujar Meki Nawipa di Ballroom Nabire, Jumat (20/2/2026).
Melalui mekanisme ini, setiap siswa yang datang ke sekolah akan langsung mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar yang mungkin tidak mereka peroleh di rumah. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat memulai proses belajar dalam kondisi fisik yang prima dan bersih.
Pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai perlengkapan pendukung, mulai dari sabun mandi, handuk hingga kebutuhan sanitasi lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan standar kesehatan dan kebersihan siswa terjaga sejak pagi hari.
Setibanya di sekolah, anak-anak tidak langsung masuk kelas, melainkan diarahkan untuk mandi terlebih dahulu. Meki menekankan bahwa akses terhadap fasilitas kebersihan yang layak masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga di pelosok Papua Tengah.
"Belum tentu di rumah mereka memiliki sabun atau fasilitas yang layak. Jadi mereka mandi di sekolah, kemudian sarapan, baru mengikuti kegiatan belajar," jelas Meki dengan penuh optimisme mengenai perubahan perilaku hidup sehat bagi generasi muda.
Setelah kebutuhan fisik terpenuhi, kegiatan belajar mengajar berlangsung normal sesuai kurikulum nasional yang berlaku. Program ini ditegaskan bukan sebagai pengganti kurikulum, melainkan penguat kesejahteraan siswa agar mereka lebih fokus dalam menyerap ilmu pengetahuan.(amd)
Bagikan artikel ini



