NABIRE - Kepala Sekolah SMA Bhakti Mandala Nabire, Agustinus Ambadatu, meminta agar sistim zonasi yang berlaku dalam dunia pendidikan sebaiknya dihapus. Sebab sistim zonasi hanya ucapan bibir belaka yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Karena pada jelang akhir hingga awal tahun pelajaran terus ada teriakan dan permintaan agar semua sekolah wajib menjalankan sistim zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Namun faktanya semua ucapan sistim zonasi tidak bisa berlaku.

Hal ini bisa terlihat pada sekolah–sekolah besar yang rata–rata menerima murid baru hingga ratusan murid. Sementara sekolah kecil hanya bisa mendapatkan jumlah murid yang hanya berjumlah puluhan murid saja.

Sehingga terkesan sekolah besar tetap besar, sementara sekolah kecil tetap terinjak hingga lebih kecil lagi. Hal ini bisa terbukti dengan jumlah murid baru yang masuk di SMA Bhakti Mandala hanya berjumlah 36 orang yang dibagi menjadi dua jurusan.

“Jika pemerintah ingin mencabut aturan tentang sistim zonasi, maka saya kepala sekolah SMA pertama yang angkat bicara agar sistim zonasi dihapus,” kata Kepala Sekolah SMA Bhakti Mandala Nabire, Agustinus Ambadatu kepada Papuapos Nabire, Kamis (28/7/22).

Sehingga untuk kedepannya, dirinya berharap agar tidak ada lagi sekolah maupun pihak manapun yang angkat bicara soal sistim zonasi. Karena faktanya hingga saat ini tidak ada sekolah yang mau jujur melaksanakan sistim zonasi.

“Dan kita mau jujur, maka marilah kita melaksanakan kegiata survey ke semua sekolah SMA besar maupun SMA kecil yang ada di daerah ini. Pasti didapatkan murid yang tinggalnya di Oyehe, tetapi sekolah yang dipilihnya tentu tidak sesuai aturan sistim zonasi,” ujarnya. (des)