NABIRE - Akibat kekurangan jumlah ruangan atau Rombongan Belajar (Rombel), setiap awal tahun pelajaran Sekolah Dasar Bhakti Mandala (SD BM) menolak puluhan murid baru dan juga murid pindahan, sehingga kedepan diharapkan adanya penambahan dua (2) buah gedung Rombel dan juga satu ruangan dewan guru dan ruang kepala sekolah.Sebab dari tahun 2013 lalu dengan kekosongan ruangan kepala sekolah dan ruangan dewan guru, akhirnya salah satu ruangan kelas dapat disekat menjadi dua yang kini menjadi ruangan kepala sekolah dan juga ruangan dewan guru.Dan hingga saat ini semua kelas dari kelas I hingga kelas VI hanya bisa menjadi kelas pararel A dan B dengan jumlah rata-rata murid per kelas 28 anak murid dan jumlah ini tidak bisa dipaksakan lagi, karena sesuai kebutuhan meja dan kursi serta ketentuan Dapodik.Demikian dikatakan Kepala SD Bhakti Mandala Pither Pamangin, S.Pd kepada Papuapos Nabire, Senin (16/9) di ruang kerjanya seraya menambahkan, pengusulan tentang adanya kekurangan Rombel SD BM telah diusulkan sejak tahun 2013 silam.Namun, hingga saat ini belum juga ada tanggapan atau jawaban dari pemerintah daerah, sehingga kami untuk saat ini dan kedepan hanya bisa membuat laporan soal kondisi yang ada, jika ada tanggapan dengan bantuan gedung Rombel dan gedung dawn guru dan kepala sekolah kami sangat bersyukur.Sementara diketahui bahwa rata-rata murid yang kini sedang menuntut ilmu di SD Bhakti Mandala Nabire kebanyakan Orang Asli Papua (OAP), namun dengan adanya keterbatasan Rombel ini membuat banyak anak OAP yang dengan terpaksa harus ditolak berkasnya diawal tahun pelajaran. (des)