Tanggapi Viralnya Anak 1,6 Tahun Meninggal di RSUD, Konferensi Pers Digelar
NABIRE - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, dr. Frans F.C. Sayori, M.Kes, menjelaskan perihal viralnya video di media sosial tentang adanya ketidakpuasan dari keluarga anak berusia 1,6 tahun yang meninggal setelah menerima perawatan dari rumah sakit.

NABIRE - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, dr. Frans F.C. Sayori, M.Kes, menjelaskan perihal viralnya video di media sosial tentang adanya ketidakpuasan dari keluarga anak berusia 1,6 tahun yang meninggal setelah menerima perawatan dari rumah sakit.
Dokter Sayori menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan sesuai standar pelayanan medis sejak pasien datAng. “Meskipun dengan beban kerja yang luar biasa dengan adanya pasien yang non-stop,” jelasnya.
Dirinya menyayangkan adanya pengrusakan peralatan medis di rumah sakit tersebut oleh pihak keluarga pasien. Ia berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali.
Selain itu, ia juga membantah terkait viralnya video di media sosial, perihal keamanan rumah sakit yang ikut menangani pasien tersebut. “Yang menangani pasien murni dokter atau mantri di rumah sakit ini,” tegas Sayori, Minggu (19/01/2025) di ruang RSUD Nabire dalam keterangan kepada sejumlah awak media.
Dr. Christin Lolongan selalu dokter jaga pada hari itu memberikan penjelasan terkait meninggalnya pasien tersebut. Pasien masuk rumah sakit pada Jumat, pukul 19.30 WIT, ia mulai berjaga mulai Sabtu pagi. Anak tersebut diagnosa diare, dehidrasi, gizi buruk, infeksi pada paru-paru.
“Awal mula pasien mendapatkan keluhan pada jam 10.00 pagi, ketika melakukan pemeriksaan nafas anak tersebut tidak lancar, dari pihak keluarganya sendiri sedang menekan (memencet dengan lembut) perut anak tersebut,” ungkapnya.

Dengan melihat kejadian tersebut, ia langsung melarang keluarganya menekan perut anak tersebut, setelah perut anak tidak ditekan lagi. “Saya langsung memeriksa pasien dengan memberikan rangsangan di dada, setelah itu anak itu menangis dan mulai membaik,” imbuhnya.
Ia pun memberi saran kepada keluarganya agar anak tersebut diberi oksigen. “Orang tuanya pun setuju, setelah pasang oksigen, saya bertanya kepada anaknya sampai begini, orang tuanya pun menjawab, tadi anaknya baik-baik saja setelah kasih makan dan minum terjadi sesak pada pernafasannya,” lanjutnya.
Setelah mendapat penjelasan dari orang tuanya. Ia melarang anak tersebut diberi makan dan minum terlebih dahulu. Dirinya mengkhawatirkan makan dan minum tersebut yang mengakibatkan sesak nafas pada anak tersebut.
Setelah pasien dilakukan pemeriksaan beberapa kali dari pihak keluarganya menanyakan kapan anak tersebut boleh makan, akan tetapi dengan kondisi anak belum stabil, dirinya belum berani memberikan ijin.
“Pada jam 02.00 dari pihak keluarga meminta memperbaiki infus tersebut karena tidak mengalir, akan tetapi perawan tersebut lagi memeriksa pasien yang lain, pada waktu yang sama ada mantri memeriksa pasien tersebut sudah kritis dan langsung lapor ke saya,” katanya.
Setelah mendengar kabar tersebut, ia dan suster langsung menuju lokasi. Akan tetapi, ketika mau memeriksa pasien tersebut dari pihak keluarga langsung marah-marah melihat kondisi anaknya. Dirinya mendapat komplen dari pihak keluarga, setelah diberi makan bisa kondisinya begini. “Saya pun kaget mendengarnya, padahal saya belum beri ijin untuk memberi makan dan minum,” katanya.
Setelah kejadian tersebut, dirinya menawarkan kepada keluarganya agar anak tersebut bisa diperiksa, tetapi dari pihak keluarga masih tidak terima dengan keadaan tersebut. “Dari bapaknya mulai mendorong saya dan mau memukul saya, sehingga saya langsung pergi dan keamanan langsung datang kesana,” pungkasnya.(amd)
Bagikan artikel ini



