Cerpen: Abdul Munib
KAU jalan ke sana kemari dengan sholawat sepotong memamerkan kemuliaan yang kau anggap kemuliaan, tapi sejak kapan kesombongan yang kau anggap bukan kesombongan itu telah menghipnotismu ?
Renungan pertanyaan di atas adalah sebuah kritik atas dirinya dan atas sirkel kaumnya yang terbelah tiga oleh pemilihan presiden. Tiwul menyeruput kopi sorenya, sambil melihat senja merah yang menampilkan pajangan awan siluet dengan surah-surah absurd.
Ia makin memahami bahwa definisi politik di negerinya semakin tersudut pada pojok ruang yang namanya logistik. Membayangkan itu seperti gudang garam di pinggir kereta api yang jadi merek rokok di negeri Dewi Kilisuci. Tapi segalanya disini tak bisa mutlak. Ada sebab sempurna yang melibatkan banyak aspek misalkan tim sepak bola. Ada gerakan dan menabung. Menabung uang atau menabung kebaikan. Juga aspek ketajaman hitungan. Aspek psikologis para pertarung. Juga aspek terukur. Segalanya bisa dipersiapkan dari awal dengan melakukan seleksi alam atau ilmiah. Dia bisa membuat kelas politik.
Isterinya datang membawa bakaran ketela pohon dengan gula aren. "Pak lebaran kali ini kita harus pulang ke kampung. Seperti penjara jiwa bagi kita di sini terutama sejak Covid telah membuka topeng wajah kota yang sebenarnya,” ujarnya.
“Iya, sayang. Doakan usaha kita berhasil,” Tiwul menimpali isterinya datar. Isterinya duduk berhadapan menemani Tiwul. Keduanya telah menyusuri waktu, kehidupan, peristiwa dan harapan bersama-sama. Isterinya menyukai seluruh kesederhanaan lelaki pemberani yang bukan saja dalam realitas. Tapi sesungguhnya ia lelaki paling lembut dibalik kesabaran perangainya. Juga lelaki paling keras dalam cita-cita untuk bangsanya dan kaum tertindas di dunia. Ia tak salah pilih.
Landung segera bergegas merapikan terompah dan baju suaminya ke ketak yang semestinya. Ia bak seorang pelatih tinju yang mengelola jiwa sang jagoannya. Ia sadar Tuhan membuka gerbang ke kehidupan berikut hanya melalui orang ini, yang menjadi pemimpin di rumahnya.
“Saya kasihan kau, dik. Pertarunganku di politik kalah terus. Ukuran-ukurannya semakin hari semakin mengeras seperti beton. Siapa yang logistiknya kuat itu yang menang. Kecoak-kecoak kecil di TPS itu seperti tidak mengerti wawasan kebangsaan. Ia menjabat jadi KPU-KPU kecil yang rungkad,” ujar Tiwul sambil menghempaskan tubuhnya yang lelah ke ranjang dipan kayu siang itu.
Ia bukan gundah karena lima kali nyaleg tidak duduk di kursi dewan. Ia sedikit khawatir dengan bangsa dan negaranya yang seperti sedang dililit oleh pemahaman bangsa Eropa yang ukuran-ukurannya adalah material. Kata gurunya, kesalahan Barat yang paling fatal ialah mereka telah membuang metafisika dari alam pemikirannya. Namun yang lebih ia gundah gulana adalah Landung, isterinya. Perempuan dari timur itu seperti tak mengenal lelah menemani perjalanan pasangannya.
“Mbok Dewor, ini sudah tahun kedua belas kita mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi keadaan kita tak banyak mengalami perubahan. Saya sedih belum dapat membahagiakanmu di dunia ini. Sedangkan di akhirat itu penentunya di tangan ridha Tuhan,” Tiwul berkata-kata sendiri seperti ngelantur.
“Jangan banyak pikiran, Kang. Kau sudah menghabiskan tenaga dan pikiran banyak dalam Pileg ini. Aku dan rumah ini tempat raga, pikiran dan jiwamu beristirahat. Tak ada kehidupanku yang lebih seru dan berdebar selain bersamamu. Dengan mengikutimu hidupku lebih seru,” timpal Landung. Seperti namanya perempuan itu memiliki kain gendong yang panjang lebar untuk merentangkan keluasan cintanya.
Hari itu TPS-TPS sudah menyimpan barang-barang dan tenda bambunya. Pemilih sudah pada pulang, begitu juga para saksi dari belasan Parpol. Pleno sudah dibacakan. Salinan berupa print dan Pdf, telah dibagikan pada saksi-saksi pemegang mandat dari masing-masing partai.
“Besok aku akan pergi ke kebun. Tanaman jagung ku lama tidak ditengok karena kesibukan ngaleg. Hanya tanaman dan ternak kambingku barangkali yang masih setia menyapa kehidupanku. Sedangkan manusia lari dariku karena tak punya serangan fajar,” Tiwul menghela nafas.
Tapi isterinya tetap setia menerima kekalahan dan keluhan suaminya. “Tetaplah tegak berdiri, Pak'e. Jangan menyerah dan takluk. Bangsa ini didirikan oleh para pejuang yang pengorbanannya adalah air mata dan sarah suhada. Mengalir di dalam tubuhmu darah mereka. Aku memilih kau sebagai pemimpin rumah ini, karena kau mewarisi semangat,” Landung menenangkan suaminya yang datang membawa kenalan.
Pesta lima tahunan ini semakin penuh dengan lalu lintas pendapat di media sosial. Gaduh penuh dengung. Partai-partai seperti perseroan terbatas, milik perorangan mengatasnamakan rakyat dan nasionalisme. Jauh dilubuk hati para pemiliknya membuncah ambisi kekuasaan. Memamerkan simbol-simbol kuasa, sementara rakyat ditinggalkan tanpa guru sejati yang tulus.
Tiwul berpartai untuk melawan semua itu. Menurutnya kebangkitan harus dimulai dari suatu jiwa yang hendak merubah gerak dari gelap ke terang.
“Pak hari sudah larut malam. Kita pikirkan itu kembali besok,” kata Landung sambil mengusap betis suaminya. Kedua teman seperjalanan itu masuk kamar dan suara kunci terdengar krek dari dalam. Keduanya berpelukan. Hanya berpelukan.***