NABIRE - Tugu Tinggal Landas (Tugu Roket, red) di depan kantor Bupati Nabire, bukan monumen tetapi itu sebuah tugu yang dibangun oleh kerukunan. Tugu tinggal landas bukan dibangun sebagai monumen yang bermakna histroris. Tugu ini tidak dibangun untuk memperingati dipindahkan Nabire dari Napan atau monumen dibangun untuk mengenang penyerahan tanah oleh masyarakat adat kepada pemerintah tahun 1966, monumen 66. Tugu tinggal landas juga tidak seperti monumen para pahlawan yang telah gugur di medan perjuangan seperti Taman Makam Pahlawan

Salah satu tokoh anak lahir besar Nabire, Udin Mardin menjelaskan perbedaan antara patung, tugu dan monumen. Patung, kita bisa buat patung apa saja dan tidak punya kenangan tertentu. Sedangkan tugu berupa satu bangunan yang menjulang tinggi. Sementara monumen sebuah bangunan yang dibuat untuk mengenang sesuatu dan bernilai historis. 

Ia mencontoh, di depan bandara bukan monumen tetapi itu patung. Sedangkan di depan kantor bupati hanya tugu. Yang bisa dibilang monumen, waktu tahun 1966 misalnya, masyarakat Suku Wate menyerahkan tanah kepada pemerintah, untuk mengenang itu mereka membuat monumen 1966 itu bisa atau monumen yang ada di Taman Makam Pahlawan untuk mengingat jasa para pahlawan. 

Udin Mardin menambahkan, monumen itu yang tidak boleh dibongkar karena monumen punya nilai historis. Tugu di depan kantor bupati bukan monumen, itu hanya tugu bukan monumen yang tidak bisa dibongkar. “Harus kita bisa bedakan, antara tugu, patung dan monument. Yang tidak bisa dibongkar hanya monumen,” jelasnya.

Menyinggung pembongkaran Tugu Tinggal Landas, Udin Mardin saat dimintai tanggapannya soal pembongkaran tersebut di Cafe Losta Masta, Menase Beach, kalibobo, Sabtu (8/10) mengungkap, sejak 7 tahun lalu, ia bersama rekan-rekannya menghias Tugu Tinggal Landas sebagai Pohon Natal terbesar di Nabire. Saat itu pula sudah melihat tugu tersebut sudah patah di tengah, patah garang di tengah. Dari luar tidak nampak, tetapi saat panjat, retaknya nampak. 

“Saya ini 7 tahun yang lalu sudah mulai dengan menghias tugu dengan membangun Pohon Natal di tugu tinggal landas. Saat itu, tubuh tugu, konstruksinya sudah patah (retak) sehingga ketika diskusi dengan orang PU, bagaimana kalau kita perbaiki karena tugu itu sudah miring ke arah kantor Bupati. Jadi patah garang di atas. Saya tahu, karena saya manjat. Kami bikin pohon Natal itukan harus pasang tangga manjat," katanya sambil menambahkan, menurut PU waktu itu, tidak bisa untuk diluruskan. "Itu sebelum pemerintahan pa’ Mesak. Tiap tahun kami bikin pohon Natal sehingga saat kerja kami hati-hati. Karena sudah tahu adanya patah garang. Jadi dari sisi kontruksi, itu sudah tidak layak.

Oleh karena itu, salah satu tukoh pemuda lahir besar Nabire mengatakan, menurutnya ketika konstruksinya sudah rapuh, ya memang harus dibongkar. "Kalau didongkrak, orang PU sendiri waktu itu tidak mau. Saya lihat keinginan pemerintah, mereka mau ada identitas. 

Dengan tugu yang baru, itu tiga pilar, ada pilar pemerintahan, pilar agama di situ dan ada pilar kesukuan atau adat. Jadi ibaratnya ada tiga batu untuk satu tungku. Di atas tiga pilar itu lambang pemerintah daerah (Pemda) Nabire. Tugu akan mencerminkan identitas pemerintah Kabupaten Nabire di ibukota Provinsi Papua Tengah,” yakinnya.

Dia menilai pembongkaran tugu tersebut untuk menggantinya tugu yang punya identitas daerah, dengan simbol daerah yang ditopang dengan tiga pilar yakni pemerintah, agama dan adat yang mencerminkan pembangunn yang ditopang dengan tiga kekuatan yakni pilar pemerintah, agama dan adat sebagai identitas daerah ini. ”Tujuannya pemerintah mau menunjukan identitasnya bukan kerukunan tetapi bagiamana pemerintahan, agama dan adat itu menyatu dengan simbol tugu yang baru’” ujarnya.

 Dari sisi estetika (keindahan), wajar tugu tersebut dibongkar dan diganti dengan simbol daerah. Apalagi untuk memperindah kota Nabire akan diperkuat dengan pemasangan lampu jalan di dalam kota Nabire.

Udin Mardin menilai, adanya pro dan kontra terhadap pembongkaran tugu tinggal landas karena kurang informasi tentang rencana pemerintah untuk membongkar tugu tersebut. Karena tidak tahu informasi, masyarakatg kaget dan protes. Tetapi seandainya sudah diinformasikan oleh pemerintah sebelumnya, reaksi protes warga bisa kurang

Udin Mardin mengingatkan, bukan baru pertama kali pemerintah membongkar tugu yang dibangun kerukuman masyarakat di kota ini. Bebarapa tugu yang ada di kota Nabire bisa dibongkar karena bukan monumen. Tugu Tinggal landas itu dibangun oleh kerukunan Jawa Timur sehingga itu tugu Jawa Timur karena yang bangun kerukunan Jawa timur, bukan monumen yang punya nilai historis sehingga tidak bisa dibongkar. Itu tugu sehingga bisa dibongkar. 

Anggota DPRD Kabupaten Nabire ini mengurai, sebelum Kerukunan Jawa Timur membangun tugu tinggal landas, di tempat itu pemerintah daerah menempatkan Tugu logo Pemerintah Kabupaten Paniai ‘GIAT”. Tugu tersebut dibongkar dan dipindahkan ke Kota Lama. Demikian juga tugu yang dibangun Kerukunan Keluarga Sulawesi selatan (KKSS) di depan Bandara, dibongkar dan ditempatkan di dekat patung Karel Gobai yang kini tidak ada lagi. Selama pembongkaran beberapa tugu di dalam kota, tidak ada masyarakat yang protes. Karena, tugu bukan monumen yang dilestarikan karena punya nilai historis.

Ketika ditanya soal rehab taman di depan bandara di tugu Selamat Datang, Udin menjelaskan, tugu tidak akan dibongkar hanya akan dilengkapi dengan air mancur dengan pencahayaan sekelilingnya. Pagar akan dirubah dengan garis-garis keliling dengan lampu stenlyter. (ans)