Warga Sukikai Selatan Sedang “Lapar”
NABIRE – Warga Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai sementara ini sedang “lapar” di belantara Selatan Papua. Masyarakat tidak hanya lapar dengan kebutuhan sehari-hari khususnya ketersediaan pangan tetapi masyarakat di sana juga lapar akan pelayanan pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Selama ini, hidupnya terkukung dengan belantara nan sangat terisolir dan sulit menjamahnya.
NABIRE – Warga Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai sementara ini sedang “lapar” di belantara Selatan Papua. Masyarakat tidak hanya lapar dengan kebutuhan sehari-hari khususnya ketersediaan pangan tetapi masyarakat di sana juga lapar akan pelayanan pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Selama ini, hidupnya terkukung dengan belantara nan sangat terisolir dan sulit menjamahnya.
Rosina Makai, salah seorang warga dari Kampung Unito, Distrik Sukikai Selatan saat menemui media ini di Nabire, Rabu (26/10) mengungkapkan, masyarakat di Unito selama ini sedang lapar, terutama 10 bulan terakhir ini. Sebab, tanaman mereka dihabiskan oleh babi hutan.
Menurutnya, sebelumnya, masyarakat kurang merasakan kelaparan, tetapi mulai terasa 10 bulan terakhir karena, banyaknya babi hutan yang menggerogoti tanaman pangan masyarakat. “Babi hutan banyak jadi masuk kebun itu habis-habis. Tanaman di kebun habis dimakan babi hutan jadi sekarang kami masyarakat Unito sedang lapar,” ungkapnya.
Kader Kesehatan yang tekun melayani masyarakat di Unito ini menambahkan, masyarakat lapar karena tidak ada beras, makanan lain, kecuali mengharapkan dari hasil kebun. Kalau babi hutan makan habis tanaman, warga setempat lapar,” tuturnya.
Menurutnya, masyarakat mendengar ada banyak dana tetapi tidak tahu realisasinya di lapangan. Seandainya ada dana yang turun langsung ke tengah masyarakat, ada bantuan pangan dari pemerintah turun ke masyarakat, mungkin masyarakat tidak lapar karena bisa membeli bahan makanan lain. Tetapi selama ini, terutama 10 bulan terakhir ini tidak ada bantuan pangan berupa beras pemerintah ke masyarakat, tidak punya uang untuk membeli makan, masyarakat hanya menerima kenyataan lapar dan terlupakan.
Menyinggung pelayanan pemerintah, jarang ada pelayanan dari pemerintah, pendidikan dan kesehatan. Pelayanan pendidikan sementara hanya seorang guru. Sedangkan pelayanan bidang kesehatan, setahun lebih Kepala Puskesmas dan petugas kesehatan yang ditempat di Sukikai Selatan, tidak ke Unito. Hanya Rosina melayani pengobatan kepada masyarakat.
Rosina juga mempersoalkan penjabaran dana kampung oleh kepala kampung kepada warganya. Ia menilai, selama ini kurang dinikmati oleh masyarakat di Sukikai Selatan.
Kepala Distrik Sukikai Selatan, Kristanus Tagi saat dikonfirmasi mengatakan soal bantuan beras kepada masyarakat ada apabila terkena musibah dan kelaparan. Bantuan pangan berupa beras yang dibagikan tahun lalu karena adanya bantuan dari pemerintah Kabupaten Dogiyai selama masa Pandemi Corona. Bantuan pangan diberikan pemerintah ketika ada kejadian luar biasa (KLB).
Kristianus menegaskan kalau ada bantuan dari pemerintah lewat pemerintah Kabupaten Dogiyai, pasti akan disalurkan kepada masyarakat. “Kalau ada bantuan beras kepada masyarakat, pasti kami bagi kepada masyarakat di kampung,” jelasnya.
Menyinggung pelayanan pemerintahan, pendidikan dan kesehatan, Kepala Distrik Kristianus mengatakan hal itu terkait langsung dengan hubungan transportasi udara. Karena untuk menjangkau Sukikai Selatan, satu-satunya lewat udara. Sekali terbang, kepala distrik, sekolah dan kepala Puskesmas dan staf mengeluarkan Rp 17 juta. Mau pulang, menanti pesawat carteran orang lain tanpa kepastian. Tidak adanya subsidi penerbangan ikut mengganggu pelayanan pemerintahan kepada masyarakat dan menghambat utusan koordinasi dan konsultasi dari Distrik ke kabupaten. Karena selama tahun ini tidak ada pelayanan subsidi penerbangan dari Pemerintah Kabupaten Dogiyai.
Menjawab bantuan dana kampung, Kristianus mengatakan, sebagai kepala distrik sudah koordinasi dan memerintahkan para kepala kampung agar ke masing-masing kampung. Karena itu, kepala kampung berada di kampung, termasuk pemanfaatan dana kampung.
Menanggapi keluhan dan kritikan warga Sukikai Selatan selama ini dilakukan oleh masyarakat Sukikai Selatan yang tinggal di Nabire dan Dogiyai. Mereka biasa minta jatah warga Sukikai Selatan diberikan juga kepada warga Sukikai Selatan di Nabire dan Dogiyai tetapi tidak diberikan sehingga mereka kritik dan mengeluh terus. “Kalau mau dapat jatah dari Sukikai Selatan lebih baik kembali dan pulang ke Sukikai Selatan,” pintanya. (ans)
Bagikan artikel ini



