Bukit Rindu, Disepakati Sebagai Tapal Batas Suku Mee dan Wate
NABIRE – Disepakati Bukit Rindu menjadi tapal batas antara Suku Mee dan Suku Wate. Sesuai kesepakatan beberapa waktu lalu di Polres Nabire, di tapal batas tersebut dilakukan pemasangan papan plat tapal batas.

NABIRE – Disepakati Bukit Rindu menjadi tapal batas antara Suku Mee dan Suku Wate. Sesuai kesepakatan beberapa waktu lalu di Polres Nabire, di tapal batas tersebut dilakukan pemasangan papan plat tapal batas.
Dikatakan Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos, M.Si, Sabtu (21/10/23) di Distrik Uwapa, ada tiga poin kesepakatan yang dibuat beberapa waktu lalu. Pertama, mengakui perbatasan adat yang dilakukan oleh Kepala Suku Wate Didimus Waray (alm), bahwa 1000X3000 kepada Suku Dani. Yang kedua, batas antara Suku Mee dan Suku Wate di Bukit Rindu. Yang ketiga, wilayah KM38 sampai KM100 dikembalikan kepada hak adat Suku Mee. Namun tidak menutup kemungkinan suku-suku lain di Kabupaten Nabire yang akan berusaha di bidang tambang, hasil hutan dan lainnya, bisa berhubungan dengan ketua-ketua marga melalui kepala suku.
“Hari ini saya di karena masyarakat Uwapa, Menou, Dipa, Siriwo, Yaro mereka menindaklanjuti hasil kesepakatan kita beberapa waktu lalu di Polres Nabire,” ujar Bupati Mesak.
Tiga hal yang disepakati, lanjut Bupati Mesak Magai, maka hari ini masyarakat Topo, Dipa, Menou, Siriwo dan Yaro akan berpotok di Bukit Rindu.
“Itu yang kami sampaikan, termasuk kepada kepala-kepala Suku Wate, Suku Moora, Suku Yaur, Suku Umari, Suku Goa, mereka tidak berat hati dengan batas ini. Kita adalah warga masyarakat Kabupaten Nabire yang punya hak adat adalah 8 suku, maka saling mengakui, saling percaya, saling mengenal itu penting. Saya mengakui mereka bahwa mereka punya hak juga ada di situ. Kita menghargai mereka, jangan sampai mereka ini tersisikan diantara kita, mereka harus bahagia di atas tanah adat mereka,” ujarnya.
Bupati Mesak Magai berpesan, dengan telah dipasangnya tapal batas disini, tanah tidak boleh dikosongkan. Masyarakat Uwapa, Dipa, Menou, Siriwo dan Yaro harus berkebun supaya dapur berasap. Tidak dengan uang palang, tidak dengan uang Togel, tetapi kerja kebun agar dapur terus berasap.
“Saya sampaikan kepada warga masyarakat Topo, Dipa, Menou, Siriwo dan Yaro karena mulai dari Uwadio sampai dengan Siriwo di Kampung Ugida inikan wilayah masyarakat Nabire. Ketika orang dengar bahwa sekian ada palang, sekian ini dan itu, kita jangan melawan dengan pemerintah, kita jangan lawan dengan keamanan,” harap Bupati Mesak.
Ketua Panitia, Petrus Degei menuturkan, Meuwo maupun Kepala Suku Simapitowa percayakan kepada ketua panitia masalah tapal batas tanah adat Suku Mee dan Suku Wate beberapa waktu lalu keputusan di Polres Nabire didalamnya tidak ada bukti fisiknya. Dari Kepala Suku Meuwo maupun Kepala Suku Simapitowa ambil alih bentuk ketua panitia sehingga panitia melaksanakan tapal batas hari ini di Bukit Rindu.
“Kami tanam patok dan Siriwo mereka juga tanam patok, Wanggar tanam, Yaro tanam, tapi kami panitia mengadakan pada hari semua sudah tanam Perbatasan tapal batas antara Suku Wate dan Suku Mee bukan karena kami larang katakan bahwa Suku Wate ini jangan masuk di wilayah Mee, tidak. Tetapi cari makan mari kita bersama-sama tetapi hak mengatur itu yang kami tanamkan batas patok supaya jelas,” kata Petrus Degei.
Kepala Suku Simapitowa, Vabianus Tebai menyampaikan, tapal batas tanah adat sudah jelas sesuai penyampaian Bupati Nabire dan ketua panitia.
“Masyarakat menyumbangkan babi dan juga berupa uang serta sumbangan dari pemerintah daerah mereka membantu kita untuk sukseskan kegiatan ini dengan hati yang murni. Saya selaku Kepala Suku Sipamitowa menyampaikan ucapan terima kasih dan apa pun yang kita kerja Tuhan selalu melindungi kita sekalian,” pungkasnya. (modes)
Bagikan artikel ini



