NABIRE – Perjuangan tempo dulu, guru, mantri, dan pelayan-pelayan Tuhan sangat dilindungi. Begitu juga setiap orang yang mempunyai jiwa besar untuk membangun negeri Papua. Namun perjuangan organisai Papua medeka yang dilakukan saat ini dinilai sangat bertentangan dengan asas perjuangan di waktu dulu. Membunuh guru-guru, petugas medis dan membakar sekolah-sekolah serta Puskesmas adalah sebuah perbuatan yang tidak manusiawi. Untuk itu para pejuang Papua merdeka tempo dulu menolak dengan tegas perjuangan seperti itu.

“Kami mengajak seluruh rakyat bangsa Papua untuk mari kita sama-sama membina persatuan dan kesatuan hati, jiwa dan roh dalam mengolah dan membangun tanah ini bersama bangsa Indonesia dalam bingkai sang saka merah putih dan Pancasila serta dasar negara. Untuk membangun Papua menjadi sebuah daerah yang memancarkan kasih, persaudaraan, kedamaian serta kebahagiaan. Ibarat surga kecil yang ada di Bumi Papua,” demikian pernyataan sikap yang dibacakan Hanock Marei, salah seorang eks pejuang Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Nabire saat doa bersama di makam panglima besar OPM, alm. Yulian Jap Marey, di Kampung Nusantara Kimi, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Kamis (30/11/23). 

Dikatakan, pihaknya para mantan OPM yang berjuang untuk Papua merdeka sejak tahun 1959 sampai tahun 1987 kurang lebih 32 tahun dengan janji-jani ada bantuan senjata dan dukungan dari luar negeri. Bahkan ada yang menyampaikan perjuangan Papua sudah ada di meja PBB dan sedang diperjuangkan.

Namun, kata dia, janji hanyalah janji-janji kosong. Buktinya sampai saat ini tidak ada senjata yang dikirim dan lain-lain. Janji itu telah merenggut ribuan nyawa anak-anak terbaik Papua, ada yang meninggal dan ada juga yang melarikan diri ke luar negeri.

Pantauan media ini, doa bersama yang dirangkai dengan siarah kubur selain dihadiri oleh mantan OPM juga dihadiri oleh puluhan warga sekitar. Kegiatan doa bersama ini merupakan rangkaian kegiatan bhakti sosial yang diinisiasi aparat keamanan wilayah Nabire bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah. 

Dasar inisiasi adanya kegiatan ini karena perjuangan TPNPB OPM saat ini tidak selaras dengan perjuangan OPM pada zaman dulu. Perjuangan OPM saat ini dinilai bukan perjuangan yang tulus untuk rakyat Papua. Melainkan hanya untuk kepentingan satu kelompok atau kepentingan pribadi saja.

Perjuangan OPM saat ini dinilai lebih ke arah kriminal dan tidak mementingkan kepentingan rakyat Papua sehingga rakyat merasa diintimidasi dan ketakutan. Maka dari itu para tokoh eks OPM hadir dalam kesempatan ini untuk ikut doa bersama agar saudara-saudara kita yang masih tergabung dalam OPM bisa membuka diri untuk turun dan bergabung kembali dalam NKRI.

Melalui kegiatan ini juga diharapkan menjadi awal yang baik untuk bisa membangun Papua menjadi tanah yang damai dan penuh kasih. Tak hanya itu, generasi penerus Papua umumnya dan anak-anak pejuang OPM ini berhak mendapatkan masa depan yang cerah. Mereka berhak mendapat hidup yang damai dan bahagia, tidak dalam kemiskinan dan konflik.

Pemda dan masyarakat Papua berharap dengan adanya kegiatan ini menjadi pencetus kembalinya pejuang OPM ke pangkuan ibu pertiwi. Sehingga Tanah Papua menjadi tanah damai dan membawa harapan yang cemerlang bagi para generasi penerus papua serta menjadikan Surga kecil yang berdiri di tanah Papua ini. (feb/ros)