Haflah Akhirussanah dan Santunan Yatim Piatu 1446 H: Bangun Generasi Berilmu dan Berakhlak Mulia
NABIRE - Suasana khidmat dan penuh berkah menyelimuti halaman Pondok Pesantren dan Perguruan Nurul Yaqien pada Minggu (15/06/2025). Ratusan pasang mata menjadi saksi gelaran Haflah Akhirussanah 1446 H yang berbarengan dengan santunan anak yatim piatu. Acara yang turut melibatkan Yayasan Al Madinah ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan juga momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan motivasi bagi para santri dalam menuntut ilmu.

NABIRE - Suasana khidmat dan penuh berkah menyelimuti halaman Pondok Pesantren dan Perguruan Nurul Yaqien pada Minggu (15/06/2025). Ratusan pasang mata menjadi saksi gelaran Haflah Akhirussanah 1446 H yang berbarengan dengan santunan anak yatim piatu. Acara yang turut melibatkan Yayasan Al Madinah ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan juga momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan motivasi bagi para santri dalam menuntut ilmu.
Puncak acara ditandai dengan tausiah inspiratif dari KH. Mukromin Al Hafidz. Dalam uraiannya yang menyejukkan hati, ia menekankan pentingnya mempersiapkan anak-anak dalam menuntut ilmu agar berhasil dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat. "Fidini wadunya wal akhiroh," tegas KH. Mukromin, mengutip ungkapan yang sarat makna.

Mukromi melanjutkan, kesuksesan dalam menuntut ilmu tidak akan tercapai tanpa memenuhi enam syarat utama. Syarat pertama adalah kecerdasan. Kecerdasan diibaratkan seperti mata pisau; semakin sering diasah, semakin tajam pula kemampuannya. Oleh karena itu, para santri didorong untuk terus mengasah akal dan pikiran mereka.
Syarat kedua adalah kesungguhan. Semangat yang tinggi dan kemauan keras adalah kunci untuk mengatasi berbagai rintangan dalam proses belajar. Tanpa kesungguhan, ilmu yang dicari akan sulit untuk diperoleh dan dikuasai.
Selanjutnya, Mukromin Al Hafidz menekankan pentingnya kesabaran. Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Proses ini tidak selalu mulus, sehingga sikap sabar menjadi bekal yang sangat berharga.
Bekal atau persiapan yang matang juga menjadi salah satu syarat penting. Persiapan ini bisa berupa sarana prasarana, mental, hingga materi pendukung yang dapat menunjang proses pembelajaran para santri agar lebih efektif dan efisien.

Nasihat dari guru-guru dan ustadz juga memegang peranan krusial. Mukromin Al Hafidz mengingatkan para santri untuk senantiasa mendengarkan dan mengamalkan nasihat baik dari para pendidik mereka, karena nasihat tersebut adalah petunjuk menuju kebaikan dan keberhasilan.
Syarat keenam, dan tak kalah penting, adalah ketika seorang anak menuntut ilmu, mereka harus senantiasa memiliki tujuan yang jelas untuk berhasil dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Niat yang lurus dan tujuan yang mulia akan membimbing mereka dalam setiap langkah pembelajaran.
Selain serangkaian acara keagamaan, haflah akhirussanah ini juga diisi dengan momen santunan bagi anak-anak yatim piatu. Momen ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial Pondok Pesantren Nurul Yaqien dan Yayasan Al Madinah terhadap sesama, mengajarkan para santri tentang pentingnya berbagi dan empati.
Diharapkan, melalui kegiatan haflah akhirussanah dan santunan ini, Pondok Pesantren dan Perguruan Nurul Yaqien serta Yayasan Al Madinah dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kepedulian sosial yang tinggi, sesuai dengan ajaran Islam.(sam)
Bagikan artikel ini



