NABIRE – Sejumlah tokoh masyarakat dan kepala suku mengharapkan agar ada penangan serius terhadap peredaran minuman keras (Miras) di wilayah Kabupaten Nabire. Terlebih lagi saat menjelang perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun 2018 ini. Diharapkan menjelang hari sakral dan bersejarah ini dampak negatif dari Miras bisa diminimalisir.Terkait dengan keprihatinan dampak negative dari Miras terhadap masyarakat khususnya generasi muda di Nabire khususnya dan Papua pada umumnya, Ketua Barisan Merah Putih Nabire, Joko Santoso, Kepala Suku D3N Nabire, Ayub Wonda, dan Kepala Suku Moni Wolani, A. Zoter Zonggonau, berkesempatan bertemu Panglima XVII/Cenderawasih Papua. Pertemuan pada tanggal 1 Agustus 2018 lalu di Jayapura, beragendakan silaturahmi dengan tujuan bertukar pikiran terkait Miras yang berdampak negative kepada masyarakat. Seperti diungkapkan Ketua Barisan Merah Putih, Joko Santoso, langkah nyata yang dilakukan Panglima XVII/Cenderawasih Papua saat itu melakukan operasi penangkapan Miras di Pelabuhan Jayapura. Tindakan yang diambil Panglima XVII/Cenderawasih ini mendapat dukungan dari para kepala suku. Karena para tokoh masyarakat dan tokoh agama tentunya mendambakan adanya penghentian peredaran Miras di Tanah Papua. Berbicara soal dampak Miras, lanjut Joko Santoso, tidak sedikit dampak negatifnya. Seperti disampaikan pihak kepolisian Nabire misalnya, kecelakaan lalu lintas tertinggi disebabkan karena pengendara mengkonsumsi Miras. Dan juga imbas lainnya seperti adanya pemalangan dan tindakan kriminal lainnya yang disebabkan karena pelaku mengkonsumsi Miras.Soal Miras di Kabupaten Nabire, kata Joko Santoso, dirinya prihatin karena banyak generasi muda hancur karena mengkonsumsi Miras yang beralkohol tinggi. Dirinya berharap agar aparat keamanan baik itu Polri maupun TNI bisa meningkatkan penindakan tegas dengan cara menyita hal-hal yang merusak masyarakat khususnya generasi muda. “Karena selama ini terjadinya kasus kecelakaan lalu lintas, pemalangan dan tindakan kriminal lainnya, banyak yang disebabkan karena pelaku mengkonsumsi Miras. Seperti komentar Kasat Lantas Polres Nabire yang dimuat di media ini juga menyampaikan hal yang sama. Kasat Lantas mengakui sebab kecelakaan lalu lintas tertinggi karena Miras,” ujar Joko saat bertandang ke redaksi, Selasa (7/8) yang didampingi Ayub Wonda dan A. Zoter Zonggonau.“Saya mendukung Panglima XVII/Cenderawasih yang berkomitmen untuk memberantas Miras di Tanah Papua. Sikap Panglima ini kami harapkan agar bisa ditindaklanjuti olah pihak-pihak lainnya agar masyarakat khususnya generasi muda di Tanah Papua tidak dihancurkan oleh Miras,” tuturnya. Penghargaan besar juga disampaikan kepada Kapolda Papua dan jajarannya hingga ke tingkat bawah yang selama ini sudah berupaya untuk menangani persoalan ini. Namun demikian, dirinya juga berharap agar Kapolda Papua dan jajarannya bisa meningkatkan bekerjasama untuk operasi Miras apapun bentuknya yang diproduksi pabrik dengan kadar alkohol tinggi, agar tidak merusak generasi muda Tanah Papua. “Saya selaku Ketua Barisan Merah Putih mengucapkan Dirgahayu NKRI ke-73, tetap semangat perbaiki generasi muda dan jangan pernah melupakan sejarah bangsa,” ujarnya.Sementara itu, Kepala Suku D3N Kabupaten Nabire, Ayub Wonda, menambahkan, saat ini kita sedang menyongsong hari kehormatan yakni peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun 2018. Menjelang hari kehormatan ini, tegas Ayub Wonda, Miras pabrik maupun yang lokal semua tutup supaya adil. Menjelang HUT RI ini, lanjut dia, Miras sementara tutup di semua kabupaten. Namun jika ada kabupaten yang masih membiarkan Miras bebas dikonsumsi menjelang hari kehormatan ini, kata Ayub, maka kabupaten itu artinya dia tidak menghormati perayaan HUT RI ke-73 tahun ini.Terkait dengan penanganan Miras di daerah ini, Ayub Wonda mengharapkan agar Dandim, Kapolres dan Pemda Nabire harus mendukung program penanganan masalah peredaran Miras di daerah ini. Dengan tujuan, agar HUT RI tahun 2018 ini bisa berjalan dengan mulus dan tidak terganggu dengan dampak dari Miras. “Kedepan Miras harus ditertibkan peredarannya. Perlu melokalisir tempat minum Miras sehingga tidak mengganggu lingkungan lainnya. Kami dukung tindakan Panglima XVII/Cenderawasih yang berkomitmen untuk memberantas Miras di Papua,” tambahnya. Hal senada juga ditambahkan oleh Kepala Suku Moni Wolani Kabupaten Nabire, A. Zoter Zonggonau. Kata dia, HUT RI ini adalah hari keramat siapapun tidak boleh ganggu terutama Miras dan dampaknya. “Miras ini datang dari mana sebenarnya ? Sering kali sudah dimusnahkan oleh aparat, namun masih saja selalu ada,” tuturnya.Menjelang HUT RI ke-73 tahun 2018 ini, tegas Zoter, bagi siapa yang mengkonsumsi Miras dan mengganggu ketertiban, itu bukan merupakan anak bangsa. “Tanggal 1 Agustus 2018 lalu saya bersama tokoh lainnya sudah bertemu dengan Panglima XVII/Cenderawasih Papua di Jayapura dan bicara soal ini. Kami harapkan pejabat di tingkat provinsi untuk melakukan koordinasi ke tingkat bawah agar segala bobo dan Miras pabrik juga ditertibkan saat peringatan HUT RI. Bagi siapa saja yang mengkonsumsi Miras dan mengganggu ketertiban peringatan HUT RI, harap aparat keamanan mengambil tindakan tegas. Patah tumbuh hilang berganti. Semboyan ini kita pegang,” ujarnya. (ros)