Kajian Ilmiah Pers (29) Investigasi: Antara Kerja Intelejen dan Penyelidikan
NABIRE - Sebelum satu pihak terjun ke medan perang, terlebih dahulu dikirim bidang intelejen untuk mengetahui semaksimal mungkin informasi.

NABIRE - Sebelum satu pihak terjun ke medan perang, terlebih dahulu dikirim bidang intelejen untuk mengetahui semaksimal mungkin informasi. Pekerjaan seorang intelejen bersifat tertutup dan tak boleh diketahui oleh pihak lain. Hasil dari pengintaian dan pengumpulan informasi dilaporkan ke pusat kendali untuk diolah sebagai strategi.
Di bidang penegakkan hukum, kegiatan diatas dinamakan penyelidikan, sebelum diadakan penyidikan oleh penyidik untuk membuat berita acara. Kegiatan penyelidikan ini, dalam bahasa hukum, diistilahkan dengan menemukan barang bukti dan kesaksian sebagai dua alat bukti.
Dua pekerjaan tentara dan polisi yang hampir sama dengan investigasi diatas, dalam kegiatan pers juga hampir sama. Hanya saja terjadi peruntukan yang berbeda setelah informasi didapatkan. Informasi intelejen akan menentukan pola dan strategi perang yang akan dijalankan. Informasi di tangan polisi penyelidikan, untuk bahan dakwaan dan persidangan. Sedangkan informasi hasil investigasi untuk dipublikasikan.
Dunia intelejen atau mata-mata di era perang asimetris sekarang, meluas bukan hanya pada informasi untuk perang fisik dalam perang konvensional. Melainkan perang di pelbagai Matra : Ipoleksosbudhankam ditambah Matra demografi dan geografi. Bahkan sekarang tambah Matra Cyber dan Hacker di bidang digital.
Dan jumlah Matra akan terus meningkat sesuai dengan kemajuan di segala bidang.
Media dengan tradisi investigasi yang cukup kuat dan konsisten di Indonesia adalah Majalah Tempo. Memang Tempo menjual investigasinya selama ini. Biasa dia namakan Laporan Utama atau Laporan Khusus. Hanya saja ketika era Tempo ada pada zaman pers ekonomi, investigasi yang ditampilkannya bercorak kepentingan pasar. Bukan sebuah pencarian yang kuat untuk keilmuan, kemanusiaan dan keadilan.
Sehingga, menurut Abdul Munib, investigasi sebagai puncak karya jurnalistik perlu dijaga terus kelestariannya. Investigasi sebagai miniatur bangunan konstruksi ilmiah, sehingga memelihara tradisi investigasi sama dengan memelihara tradisi ilmu pengetahuan.
Mentradisikan karya investigasi dalam kehidupan pers kita, dapat mengasah ketajaman insting seorang wartawan melihat dan menghayati
realitas secara jernih. Pada akhirnya, sedalam apa kita dapat memahami investigasi, tanah praktek lah yang akan terus mengasah kehormatan jurnalistik ini.(amd)
Bagikan artikel ini



