NABIRE - Dalam penulisan berita dalam pers dikenal beberapa jenis tulisan. Diantaranya adalah tulisan berita spot news, features, investigasi, deep news, analisis berita dan tajuk. Sedangkan tulisan dari luar, yaitu opini, artikel ilmiah, kolom atau tulisan sastra seperti cerita bersambung puisi.

“Pada kajian pers kali ini kita akan mengenal sekitar enam jenis tulisan media, antara lain berita pendek atau spot news, berita human interest atau feature, berita investigasi, pendalaman berita, analisisa berita dan tajuk sebagai opini redaksi terhadap sebuah masalah yang sedang trend," ujar Abdul Munib.

Adapun berita pendek atau spot news, paparnya adalah berita singkat yang mengandung 5W+1H. Jenis berita spot inilah yang seringkali memenuhi laman media selama ini. Unsur-unsur 5W+1H itu antara lain menyangkut adanya subyek atau pelaku (who), apa yang terjadi, tempat kejadian atau where kapan terjadi (when), sebab akibat kejadian itu (why) dan bagaimana kejadian atau masalah itu terjadi (how).

"Dalam uji kompetensi wartawan menulis spot news ini masuk ke dalam kategori level wartawan muda," paparnya.

Mengenai penulisan features selalu terkait dengan obyek-obyek berita kemanusiaan (human interest) dengan kata lain dari fakta realitas berupa peristiwa, masalah, fenomena atau keadaan sisi kemanusiaannyalah yang mendapatkan sorotan dari wartawan. Pada saat penulisan, wartawan melibatkan perasaan manusiawi, sehingga karya tulisan feature dapat menggugah perasaan pembacanya. Tulisan feature juga menuntut adanya deskripsi atau gambaran detail yang akan mengesankan suasana lahiriyah maupun bathiniyah yang meliputi seluruh keadaan.

“Keterampilan menulis feature bagi seorang wartawan ini muncul dalam materi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk level wartawan madya,” jelasnya.

Tulisan investigasi disebut juga sebagai mahkota pers. Tingkat kesulitannya terletak pada obyeknya yang terpendam atau dibawah permukaan. Biasanya obyek berita investigasi itu adalah suatu hal yang penting di masyarakat, namun membutuhkan penggalian yang cukup rumit. Oleh sebab itu, membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi peliputan, penganggaran operasional dan bahan pertanyaan atau TOR (term of resrepentasi). Tipikal dari obyek berita investigasi ini memiliki karakter suatu kesatuan yang tersembunyi, yang membutuhkan pengungkapan melalui kepingan-kepingan informasi yang dikonstruksi layaknya sebuah puzzle.

“Contoh-contoh objek yang diinvestigasi misalnya jaringan Narkoba di Kabupaten Nabire. Seorang wartawan harus mampu mengendus dari mana pintu masuknya, apakah dari kapal putih atau ganja yang ditanam di hutan dan bagaimana para pengedar menjalankan distribusinya. Contoh berita investigasi masih banyak misalnya bagaimana penyelenggara Pemilu mengotak-atik suara melalui celah-celah sempit untuk dijual kepada politisi. Bagaimana birokrasi bersekongkol dengan kontraktor dalam pelelangan maupun mutu bangunan. Dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Adapun pendalaman berita dan analisis berita adalah kepanjangan dari spot news yang ditunggu oleh pembaca dari sisi kelengkapannya, sisi kedalamannya dan sisi efeknya terhadap sosial masyarakat, misalnya di Nabire sering kali terjadi tabrakan, datanya bisa dicek di bagian lalu lintas Polres Nabire, pendalaman berita dapat mengulas perilaku pengendara di Nabire yang masih minim. Sehingga dalam berita pendalaman atau analisis perlu ditambahkan aspek kesadaran berlalulintas, sosialisasi Undang-undang Lalulintas dan etika berlalulintas. Pada berita jenis ini selain memasukan aspek-aspek lain dan riset dokumentasi juga biasanya menawarkan solusi atau jalan keluar.

Selain itu, juga menyinggung persoalan-persoalan sosial yang selama ini belum terpecahkan, misalkan kelangkaan pupuk bagi petani, generasi baru yang tidak berniat pada sektor pertanian, banyaknya pengangguran, rawannya pencurian dan masalah sosial lainnya.

“Pendalaman berita atau analisa berita perlu dikuasai oleh seorang wartawan agar memberikan pendidikan kepada masyarakat sesuai dengan Tupoksi wartawan sesuai Undang-undang Pers nomor 40 tahun 1999. Dengan terus membiasakan penulisan pendalaman berita dan analisa berita, seorang warwatan dapat menjadi matahari di bumi, menemani matahari yang menerangi di langit,” jelasnya.

Tentang tulisan tajuk dalam sebuah media, pada dasarnya adalah tulisan opini atau pendapat hanya saja pembuatnya adalah redaksi. Biasanya tulisan tajuk ini merupakan sikap indepedensi redaksi dalam nilai sebuah masalah fenomena atau keadaan dan memberikan jalan keluarnya.

Tulisan tajuk lazimnya ditulis oleh pemimpin redaksi atau redaktur pelaksana dalam sebuah media. “Pada dasarnya seorang wartawan harus mampu membuat tajuk, karena di kompetensi utama menjadi bahan uji,” pungkasnya.(amd)