Kajian Ilmiah Pers (33) Analisa Berita: Menasfir Fakta dengan Fakta
NABIRE - Jika yang terjadi adalah menafsir fakta dengan pengetahuan, maka dalam penulisan pers itu dinamakan artikel ilmiah populer. Dan jika itu dilakukan oleh redaksi maka tulisan itu dinamakan Tajuk atau Editorial.

NABIRE - Jika yang terjadi adalah menafsir fakta dengan pengetahuan, maka dalam penulisan pers itu dinamakan artikel ilmiah populer. Dan jika itu dilakukan oleh redaksi maka tulisan itu dinamakan Tajuk atau Editorial.
Tulisan ilmiah populer atau Tajuk tergolong ke dalam pola berpikir deduksi. Yaitu dari suatu fakta kasus yang tertentu dianalisis berdasarkan teori pengetahuan yang dimiliki seorang penulis dari berbagai sudut pandang pengetahuan.
Tentang ini akan dituangkan dalam kajian khusus menulis tajuk. Meski tajuk secara pola deduksi, namun sering kali dimasukkan ke dalam tujuh tipe penulisan yang diajarkan di kelas-kelas redaksi. Karena tajuk ditulis oleh seorang jurnalis senior sebagai pemimpin redaksi atau redaktur pelaksana (Redpel)
Kali ini kita mau mengkaji tentang hal ihwal penulisan analisa berita. Untuk tetap berada dalam lingkup pers, makna analisa disini bukan lah analisa berbasis akademisi seperti di perguruan tinggi. Melainkan analisa yang menafsirkan fakta dengan fakta lainnya. Tulisan analisa berita tidak boleh terjebak dalam tulisan opini. Namun harus tetap berbais fakta atau realitas material.
Dalam hal analisa berita, wartawan dapat menuju sumber-sumber berita yang memiliki kompetensi ahli maupun profesional atau para spesialis. Mereka adalah fakta verbal yang dapat digunakan sebagai verifikasi fakta realitas material. Yang dari mereka akan mendapatkan suatu keterangan-keterangan yang bersifat analusis.
Misalkan analisa berita Vina Cirebon yang sekarang mencuat setelah filmnya, Yakni Vina Sebelum Tujuh Hari, laris dan viral sampai 5 ribu penonton di bioskop. Kasus Vina Cirebon banyak sengkarut karena banyak sekali menekankan pada fakta verbal, yaitu berdasarkan pada pengakuan cerita dan pernyataan. Namun fakta empiris berupa uji forensik, tes DNA, dan uji kendaraan, tidak tampak dalam membongkar kasus ini. Suatu konstruksi berita atau konstruksi berita acara akan lemah jika hanya bersandar pada basis fakta verbal. Yang akurat adalah analisa berita berdasarkan kepada fakta material yang terus diverifikasi.
Dalam analisa berita selain kita dapat menggabungkan beberapa ahli atau spesialis, agar keilmuan membuat hipotesa-hipotesa teoritis yang dapat memperkaya khazanah pengetahuan khusus dalam wacana sebuah kasus.
Melalui berita analisa ini, akan memberikan informasi umum kepada pembaca tentang pendapat ahli yang berdasarkan pada patron-patron yang berlaku di bidangnya. Misalkan dalam kasus Vina Cirebon yang lagi viral, pendapat ahli forensik, ahli sosial, ahli konspirasi, ahli kepolisian dan ahli pedagogi pendidikan.
Menurut Abdul Munib, dalam hal analisa berita wartawan harus memiliki akses kepada para pakar di pelbagai bilang yang sudah teruji dan terbukti memiliki penguasaan teori memadai dan pengalaman serta jam terbang yang cukup dalam menganalisa masalah.
Menurutnya, berita analisa wartawaan tidak harus seperti skripsi, tesis atau disertasi di perguruan tinggi, melainkan wartawan cukup bisa memahami dasar-dasar umum dari
setiap bidang pengetahuan agar dapat memahami kerangka pikiran para ahli.(amd)
Bagikan artikel ini



