NABIRE - Seorang wartawan harus dapat memahami apa itu Logika Pers. Menurut Abdul Munib, logika itu tersusun oleh konsepsi dan afirmasi untuk membuat satu proposisi (frasa/kalimat). Dalam ilmu bahasa konsepsi disebut subjek dan afirmasi disebut predikat.

Dalam menyandarkan afirmasi yang memberi penilaian tertentu pada konsep (subjek) terlebih dahulu harus dilakukan verifikasi. Baik itu verifikasi konfirmasi, verifikasi observasi maupun verifikasi investigasi. Dalam melengkapi banyak sisi sumber maupun riset data semaksimal mungkin dapat dicapai berita baik diukur dari banyaknya sisi (coverbothsides)

Menurutnya, setiap hari seorang wartawan membuat satu tema dalam sebuah tulisan berita. Rangkaiannya tersusun dari beberapa alinea. Dalam setiap alinea terdapat banyak kalimat. Dan dalam setiap kalimat terdapat kata-kata, yang setiap kata itu mewakili makna dalam pelbagai idiom. Bahasa Pers ada dalam idiomatik umum. Bahasa terminologis atau disiplin ilmu, berupa idiom atau istilah khusus di bidangnya. Makanya seorang wartawan dituntut dapat menyederhanakan bahasa terminologis kedalam bahasa idiom umum.

Jadi menurutnya, setiap konsepsi (subjek) haruslah subjek yang sudah jelas dan tidak ambigu (samar). Subjek harus berupa konsepsi yang difahami oleh publik. Sedangkan penilaian atau afirmasi terhadap konsepsi (subjek) haruskah dilakukan setelah melakukan verifikasi faktual terhadap peristiwa maupun masalah yang sedang diliput.

Seorang wartawan harus memahami bahwa setiap disiplin ilmu atau terminologi itu adalah kumpulan proposisi yang dihasilkan secara induktif dan menetapkan kaidah umumnya. Sedangkan metode dan praktek pers berwatak deduktif, yakni dari konsepsi ke penilaian khusus melalui afirmasi yang telah diverifikasi.

Ketika seorang wartawan sudah faham logika Pers, maka ia akan dapat mengidentifikasi dan menginventarisasi seluruh konsepsi sosial dimana ia berada, untuk dapat memberi penilaian kepada fakta peristiwa dan masalah. Dengan kata lain, dalam seorang wartawan dapat terverifikasi adanya (eksistensinya) sesuatu filosofis, maupun esensinya secara abstraksi.

Walhasil, seorang wartawan setiap membuat tulisan akan terlihat ke dalam mengkonsepsi subjek, mengafirmasi predikat, setelah diverifikasi baik melalui verifikasi konfirmasi, chek and balancing, observasi maupun investigasi. Dengan memahami lebih mendalam logika pers, seorang wartawan akan punya banyak fenomena dalam melihat suatu peristiwa atau masalah.(amd)