Kajian Ilmiah Pers (6) Wartawan Sang Intrepetator
NABIRE - Tiba-tiba kita dikagetkan oleh pernyataan Dahlan Iskan bahwa kebenaran lama berupa fakta dalam pers telah tergantikan dengan kebenaran baru, yakni persepsi.

NABIRE - Tiba-tiba kita dikagetkan oleh pernyataan Dahlan Iskan bahwa kebenaran lama berupa fakta dalam pers telah tergantikan dengan kebenaran baru, yakni persepsi.
Menurutnya hari ini pers tidak lagi bersama kebenaran lama berupa fakta melainkan persepsi yang kemudian digiring menjadi framing. Namun Munib tak sependapat dengan pernyataan gurunya itu.
"Sebagai suhu wartawan di Jawa Pos Group, yang dulu saya bagian dari muridnya, tentu Dahlan Iskan selama ini banyak menjadi rujukan saya. Tapi kali ini ia kehilangan eranya," ujar Abdul Munib dalam kajian yang diadakan Papuapos Nabire setiap jam delapan pagi itu.
Dalam kajian ilmiah Pers, dinyatakan bahwa wartawan adalah sang Intrepetator terlatih dan memiliki keahlian. Bukan itu saja ia secara komitmen dan konsisten, memang memilih kekhususan dan keahliannya itu sebagai bagian jalan hidupnya sebagai Sang Intrepetator."Itulah jalan pilihan hidup seorang wartawan," ujar lelaki asal Kampung Tiwulandu, Brebes ini.
Dahlan yang selama ini wartawan Tempo dan kemudian menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos Jawa Timur sejak tahun 1980-an, melihat Pers sebagai produk jualan. Pers terbaik baginya adalah yang laku di pasaran.
Dalam prinsipnya inilah ia mengembangkan Jawa Pos Group dan Radar ke seluruh Indonesia. "Saya menjadi bagian dalam proses itu. Terlebih ketika dari Surabaya saya dikirim untuk merintis Cenderawasih Pos di Jayapura tahun 1993," ujar Munib.
Isi berita dalam koran bagi Dahlan harus berupa serba ada seperti supermarket, agar pembeli membeli koran. Tulisan harus seperti orang bercerita dongeng supaya ringan dan banyak pembeli.
Wartawan dilarang cetak untuk menjadi apa kata pasar. Wartawan menjadi terkunci dalam suasana pasar dan tak bisa apa-apa. Ketika pasarnya roboh oleh disrupsi digital, dan Medsos lebih merajalela, maka tamatlah wartawan yang didefinisi oleh Dahlan selama ini. Demikian pun Gunawan Mohammad, kenapa ia harus pensiun dari majalah Tempo, sehingga Tempo menjadi kehilangan data hidupnya. Pertanyaannya apakah wartawan telah mati ? Tentu sebagai Intrepetator ahli dia tidak akan mati.
Sebab dalam pekerjaan pers mengandung disposesi, yakni dari yang fisika kita menempuh metafisika. Sang Intrepetator adalah jiwa yang dituntut layak secara pengetahuan, keahlian dan sikap jiwa yang independen. Ketika pemahaman terhadap kata fakta itu harus berupa materi yang terindera, maka akan kesulitan ketika kita hendak membuat subjek konsepsi yang imaterial.
Fakta seharusnya realitas peristiwa, masalah, fenomena, keadaan atau sosok. Baik realitas fisika maupun metafisika. Verifikasi wartawan untuk memberi penilaian pada subjek konsepsi diatas melalui predikasi (afirmasi), melalui cara observasi, konfirmasi, investigasi, dan riset, adalah pekerjaan hanting (berburu berita) atau liputan di lapangan.
Setelah mendapat hasil verifikasi, baru seorang wartawan membuat Interprestasi. Jadi tak ada fakta lama maupun fakta baru. Fakta adalah realitas tunggal baik nampak sebagai fisik atau tak nampak dalam non-fisik.
Tindakan mempredikasi (afirmasi) suatu subjek konsepsi, adalah tindakan penilaian dari situlah seorang wartawan menafsir. Hal ini pula yang membuat definisi Pers bukan lagi anggapan umum melainkan, bagian dari kemerdekaan yang berasal dari keping koin rasionalitas yang memiliki dua sisi, yakni sisi kemerdekaan dan sisi tanggung jawab.(amd)
Bagikan artikel ini



