NABIRE - Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Workshop Pengembangan Peta Jalan Pembelajaran Dasar dan PAUD Berkualitas yang Sensitif Gender, Disabilitas dan lnklusif (Gedsi) di Papua Tengah, berlokasi di Aula Hotel Mahavira, Jalan Ampera Nomor 88, Nabire, dimulai Selasa hingga Rabu (10-11/6/2025) kemarin.

Narasumber yang dihadirkan salah satu diantaranya, yaitu Ketua Yayasan Peduli Difabel (Cacat Fisik dan Cacat Mental) dan Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Nabire, Papua Tengah, Maria Yetiasaputri Kapitarauw, S.Sos.,MM. Ia menanggapi perihal lokakarya dan workshop pengembangan peta jalan pembelajaran literasi dasar dan berkualitas, merupakan inisiatif yang sangat penting dan relevan terutama di era saat ini.

"Literasi dasar adalah fondasi bagi semua pembelajaran dan partisipasi aktif dalam masyarakat. Ketika kita berbicara tentang literasi yang berkualitas, itu berarti kita tidak hanya fokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pada pemahaman kritis, kemampuan analitis dan penerapan pengetahuan," katanya.

Hasil yang diharapkan dari workshop selam 2 hari tersebut, jika lokakarya dan workshop ini dirancang dan dilaksanakan dengan baik, beberapa hasil konkret yang dapat diharapkan.

"Peta jalan (Roadmap) yang Jelas dan Tterstruktur, modul pelatihan dan bahan ajar adaptif, kerangka kerja evaluasi dan pemantauan, rekomendasi kebijakan, peningkatan kapasitas tenaga pendidik," ujarnya.

Adapun keterlibatan pihak disabilitas dalam lokakarya seperti ini ialah mutlak dan esensial, bukan sekadar formalitas. Tanpa partisipasi aktif mereka, peta jalan yang dihasilkan berisiko tidak inklusif dan tidak relevan dengan kebutuhan nyata.

"Mereka dapat memberikan wawasan tentang bagaimana disabilitas, memengaruhi akses terhadap literasi dan strategi apa yang paling efektif. Memastikan perwakilan dari berbagai jenis disabilitas (misalnya, tunanetra, tunarungu, tunadaksa, disabilitas intelektual) diikutsertakan dalam sesi diskusi, lokakarya dan brainstorming," katanya. 

Lanjutnya, mendorong organisasi disabilitas untuk membagikan data, penelitian atau studi kasus tentang tantangan literasi yang dihadapi oleh komunitas mereka. “Melibatkan individu dengan disabilitas dalam pengujian (pilot testing) modul pelatihan atau bahan ajar yang dihasilkan untuk memastikan aksesibilitas dan efektivitasnya,” ucapnya.

Ia berharap untuk menyediakan juru bahasa isyarat, materi dalam braille atau cetak besar, akses ramp, toilet disabilitas dan fasilitas lain yang mendukung partisipasi penuh bagi penyandang disabilitas selama lokakarya berlangsung. 

Harapan besar dari lokakarya dan workshop ini terwujudnya ekosistem literasi yang benar-benar inklusif dan setara bagi semua anak. "Tidak ada anak yang tertinggal, guru yang berkompeten dan percaya diri, materi pembelajaran yang inovatif dan dapat diakses, lingkungan belajar yang adaptif dan mendukung, kolaborasi yang kuat, meningkatnya partisipasi sosial dan ekonomi," tutupnya.(edi)