NABIRE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak domino yang besar bagi masyarakat Papua Tengah. Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Nabire, Herman Sayori, menegaskan bahwa mega proyek nasional ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak sekolah, melainkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang nyata.
Saat ditemui di kawasan Pantai Manase, Nabire, Senin (14/9), Herman menjelaskan bahwa MBG menciptakan rantai pasok inklusif yang langsung menyentuh akar rumput.
"Di dalam MBG itu ada nilai ekonomi, ada nilai kesehatan. Itu yang nanti akan mempermudah perputaran ekonomi untuk masyarakat," ujar Herman optimis.
Ia menjabarkan, kebutuhan bahan baku dapur MBG berpotensi besar menyerap hasil produksi lokal. Ikan dari nelayan pesisir, telur dari peternak lokal, hingga sayur-mayur dari kebun mama-mama Papua dapat langsung terserap ke dalam sistem operasional program. Skema ini diyakini membuka keran pendapatan baru, terutama bagi warga yang selama ini berada di sektor informal.
Selain memutar roda ekonomi di tingkat bawah, subsidi pangan ini secara otomatis memangkas biaya pengeluaran harian rumah tangga, sehingga sangat meringankan beban finansial para orang tua.
Di sisi lain, menyikapi aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (15/9), tokoh adat Papua Tengah ini menyerukan pesan damai. Herman mengimbau seluruh elemen masyarakat dan korlap aksi untuk tetap menahan diri dan menjaga ketertiban umum.
"Mari kita jaga keamanan bersama. Aspirasi boleh disampaikan, tetapi jangan sampai mengganggu ketertiban dan merugikan masyarakat lainnya," imbaunya. Ia juga mengingatkan massa agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu liar, menghindari tindakan anarkis, serta menjauhi perusakan fasilitas publik yang justru merugikan daerah sendiri.

#Benahi Masalah, Jangan ‘Bakar Lumbung’
Terkait riak-riak dan kendala teknis yang sempat muncul dalam simulasi atau pelaksanaan awal MBG—seperti isu kelayakan konsumsi—Herman meminta semua pihak melihatnya secara bijak dan berbasis fakta. Ia meminta publik tidak langsung menghakimi esensi program secara keseluruhan.
“Kalau satu lumbung ada tikus, bukan lumbungnya yang dibakar, tetapi dibenahi bagaimana supaya tikus tidak masuk merusak isi lumbung,” tegas Herman mengibaratkan.
Jika ditemukan kasus seperti dugaan keracunan, Herman mendesak penegak hukum dan instansi terkait melakukan investigasi medis menyeluruh. Langkah disiplin dalam menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) di dapur umum mutlak dijalankan demi menjamin keamanan pangan.
Menutup keterangannya, Herman menaruh harapan besar agar program MBG ini berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Investasi gizi jangka panjang ini dinilai menjadi kunci utama dalam mencetak generasi emas Papua yang sehat, cerdas dan berkarakter di masa depan. (ist/wan)