SEPEKAN lagi umat Kristiani akan memasuki masa persiapan perayaan Natal (Pra Natal), di lingkungan gereja Katolik masa Adven sebelum merayakan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Perayaan hari keagamaan, entah agama manapun menjadi momentum sukacita dan kedamaian bagi pengikutnya.

Demikian juga dengan Umat Kristiani di dunia akan merayakan Natal dan Tahun Baru. Pesta kedamaian di tengah umat Kristiani dan umat manusia lainnya.

Pesta Natal bukan pesta hiruk pikuk, keramaian namun pesta kedamaian penuh suka cita. Karena umat Kristen yakini perayaan hari kelahiran Sang Juru Selamat, penyelamat umat manusia menjelma sebagai anak manusia yang dilahirkan di kandang.

Oleh sebab itu, Natal dirayakan dalam suasana hening, damai dan sukacita. Natal dirayakan bertepatan dengan tanggal yang ditetapkan hari Natal. Tidak ada peringatan dan pesta hari/tanggal sebelum ditetapkannya hari/tanggal kelahiran.

Pekan depan sudah dipersiapkan perayaan Nataru. Sementara itu, sebagian dari Umat Kristiani sendiri, entah sadar atau tidak, 'menterjemahkan' Nataru sebagai pesta letupan.

Di mana-mana terdengar bunyi letupan di tengah pemukiman warga. Padahal letupan terutama mengganggu ketenangan dan kedamaian warga saat persiapan dan perayaan pesta Natal.

Dan itu sebagian dilakukan kelompok usia anak-anak yang pengawasannya di bawah orang tua dan ketua RT/RW untuk menjaga kenyamanan di tengah warga.

Oleh sebab itu, untuk menciptakan suasana damai dan suka cita selama Natal sedikit besarnya peran orang tua, RT/RW ikut menentukan. Orang tua mengawasi dan mendidik anak sementara RT/RW menjaga ketenangan di dalam lingkungan pemukiman.

Tak lupa peran pemimpin jemaat, tokoh gereja untuk mengingatkan bahwa pesta Natal bukan pesta letupan, tetapi pesta yang penuh kedamaian dan sukacita penuh keheningan. Karena itupula kita rayakan Natal tepat 25 Desember.(ans)