RSUD Nabire Miliki Alat Operasi Canggih
NABIRE – Kini RSUD Nabire telah memiliki alat operasi yang tergolong canggih. Alat operasi bernama Laparoskopi ini sudah dioperasikan untuk menangani pasien yang beroperasi di RSUD Nabire. Di Papua baru ada 2 rumah sakit yang memiliki alat canggih ini, yakni di RSUD Dok II
Bagikan
NABIRE – Kini RSUD Nabire telah memiliki alat operasi yang tergolong canggih. Alat operasi bernama Laparoskopi ini sudah dioperasikan untuk menangani pasien yang beroperasi di RSUD Nabire. Di Papua baru ada 2 rumah sakit yang memiliki alat canggih ini, yakni di RSUD Dok II Jayapura dan satunya lagi di RSUD Nabire.
Direktur RSUD Nabire, dr. Johny R. Tandisau yang ditemui media ini di ruang operasi, mengatakan, dengan menggunakan alat canggih ini, tindakan medis berupa operasi bisa direkam dan hasilnya bisa diprint out. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan monitor yang bisa menayangkan tindakan operasi yang dilakukan. “Ada dua monitor yang kita pasang. Satu monitor kita tempatkan di dalam ruang operasi, sementara monitor satunya lagi kita tempatkan di ruang tunggu sehingga keluarga pasien pun bisa secara langsung melihat tindakan operasi yang kita lakukan,” ujar dr. Jhony.
Ditanya soal kelebihan menggunakan alat ini saat operasi, kata direktur, ada sejumlah kelebihan ketika operasi menggunakan alat ini. Beberapa diantaranya, bekas operasi kecil. Selain itu, perawatan pasca operasi pun relatif lebih singkat. Untuk perawatan pasca operasi hanya dibutuhkan satu hingga dua hari saja. Tidak hanya itu nilai plus ketika menggunakan alat operasi ini. Dengan menggunakan alat oeprasi ini akan lebih aman dan pasienpun lebih nyaman saat dioperasi.
Dirinya mengakui, dengan menggunakan Laparoskopi saat melakukan operasi konsekuensinya biaya operasionalnya lebih tinggi. Karena untuk mengoperasikan alat ini juga dibutuhkan CO2. Mahalnya biaya untuk mengoperasikan alat ini juga dengan perhitungan perlunya biaya pemeliharaan (maintenance).
Namun biaya tinggi ini tidak perlu meresahkan masyarakat pasien. Karena bagi masyarakat pemegang kartu dan untuk orang asli Papua, tidak dikenakan biaya alias gratis.
“Memang biayanya tinggi, tapi pasien tidak perlu khawatir. Bagi pasien orang asli Papua atau pasien pemenang kartu kesehatan, tidak dibebankan biaya alias gratis,” tegasnya lagi.
Lebih lanjut dituturkan Direktur RSUD Nabire, tenaga medis yang berhubungan langsung dengan pengoperasian Laparoskopi ini juga sudah dilatih. Pihaknya sudah mengirim personilnya untuk mengikuti kursus penggunaan alat ini di Jakarta. Sehingga untuk mengoperasikan alat canggih ini sudah tidak terkendala.
Ditanya operasi jenis apa saja yang bisa dilakukan operasi dengan menggunakan Laparoskopi ini, jawabnya, semua jenis operasi di dalam perut yang selama ini bisa dilayani di RSUD Nabire, bisa dilakukan menggunakan alat ini. Seperti misalnya operasi usus buntu, batu empedu, maupun tumor dari kandungan.
Data yang dihimpun media ini menyebutkan, laparoskopi adalah sebuah teknik melihat ke dalam perut tanpa melakukan pembedahan besar. Walaupun awalnya adalah adalah prosedur ginekologi, laparoskopi semakin sering digunakan dalam pembedahan cabang lain.
Menurut sumber lain Laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang menggunakan alat-alat berdiameter kecil untuk menggantikan tangan dokter bedah melakukan prosedur bedah di dalam rongga perut. Kamera mini ini digunakan terlebih dahulu, kemudian dimasukkan gas untuk membuat jarak pemisah antara rongga sehingga dapat terlihat dengan jelas gambar yang akan terlihat. Dokter bedah melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat-alat tersebut dengan kedua tangannya.
Operasi Laparoskopi Lebih Efektif
Operasi laparoskopi disebut-sebut operasi yang lebih aman dibanding dengan prosedur bedah tradisional dengan sayatan besar, karena operasi tersebut hanya meninggalkan sayatan kecil pada kulit. Oleh karena itu, operasi laparoskopi merupakan operasi yang banyak memberikan manfaat ketimbang operasi biasa.
Prof. Dr. dr Wachyu Hadisaputra, SpOG (K) ahli kandungan dan Guru Besar Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa banyak kelebihan yang dirasakan pasien, saat pasien memilih operasi dengan cara laparoskopi dibandingkan operasi biasa. Misalnya saja, dari bekas sayatan, efektivitas sampai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.
Hal itu bisa terjadi, karena laparoskopi ialah tindakan memasukan alat laparoskopi dalam peritoneal untuk mendiagnosis penyakit dan sebagai terapi. Dan pola bedah seperti itu juga sering disebut operasi minimal invasif. Di mana operasi hanya melalui sayatan yang kecil antara 0.5 - 1.5 centimeter. Kemudian, peralatan canggih ini tersambung dengan monitor yang disebut sistem HDTV. (ros)
Bagikan artikel ini



