NABIRE - Pasca pengumunan hasil tes masuk SMA Negeri 1 Nabire di awal tahun pelajaran 2025/2026, ternyata dari 720 calon murid baru yang mendaftarkan diri dan ada 515 yang mengikuti seleksi tes dan hanya 360 orang yang dinyatakan lulus dan diterima sebagai calon siswa/siswi SMAN 1 Nabire untuk mengisi 10 ruang kelas yang tersedia.

Dari hasil pengumuman yang resmi diumumkan pada Senin (16/6/25) malam oleh pihak sekolah, ternyata pada pagi atau keesokan harinya, Selasa (17/6/25) sejumlah orang tua murid yang anak-anaknya tidak diterima datang dan bertemu secara langsung dengan kepala sekolah, Ketua Panitia Sitim Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMAN 1 tahun pelajaran 2025/2026 dan meminta adanya kebijakan pihak sekolah.

Dari hasil pertemuan itu, ada beberapa orang tua murid yang juga mantan siswa-siswi SMAN 527 Nabire kala itu secara tegas mengatakan, SMAN 1 Nabire saat ini merupakan salah satu sekolah tertua yang dari tahun ke tahun banyak animo orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya, sehingga sudah saatnya harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dengan pembangunan dua lantai.

Karena berdasarkan penjelasan Kepala sekolah SMAN 1 Nabire saat ini, Yanus Arwam, S.Sos, untuk membangun gedung baru lagi ke depan, ke belakang, ke kiri atau kanan sudah tidak ada tempat atau lahan kosong, sehingga solusinya untuk ke depan SMAN 1 dibangun dua lantai agar setiap awal tahun pelajaran tidak ada lagi keributan antara orang tua ke pihak sekolah.

Sementara itu, dihadapan orang tua murid yang hadir, Kepala sekolah SMAN 1 Nabire, Yanus Arwam, S.Sos mengatakan, di awal tahun pelajaran 2024/2025, pihaknya dijanjikan oleh pemerintah akan dibangunkan tambahan dua ruangan kelas, sehingga pada saat ini menerima jumlah murid untuk mengisi 12 ruang kelas.

Namun faktanya, hingga saat ini di awal tahun pelajaran 2025/2026 janji untuk pembangunan dua gedung kelas tidak kunjung tiba, sehingga penerimaan murid baru di awal tahun pelajaran ini dibatasi untuk mengisi 10 ruang kelas yang tersedia saat ini.

Sebab di awal tahun pelajaran lalu, pihak sekolah memaksakan dengan menggunakan dua ruangan laboratorium, yakni IPA dan Lab Computer, namun saat adanya matapelajaran yang harus praktek, terpaksa anak-anak yang belajar di dua lab ini jadi korban dan pindah belajar di dua kelas yang lagi mengikuti praktek.

“Sehingga usul pihak sekolah untuk Pembangunan sudah saatnya SMAN 1 Nabire berlantai dua agar tidak ada lagi keributan di setiap awal tahun pelajaran,” tutur Yanus Arwam.(des)