NABIRE - Dilansir dari kompasone.com, Senin (22/07/2024) terjadi kematian Ibu Hamil (Bumil) atas nama Fani Fiwen Enawi, warga kampung Akudiomi - Hayeri di kwatisore, yang diduga kematiannya disebabkan tidak adanya pasokan obat-obatan di Puskesmas Kwatisore serta tenaga medis yang tidak berada di tempat kerja.


Kejadian yang dialami Bumil Fani ini terjadi pada 8 Mei 2024, dikutip dari media kompasone.com, dan Kepala DKP2KB menjelaskan terkait kasus kematian pasien di Kwatisore tersebut.


"Saya rasa kurang tepat kalau kita nyatakan lalai dan kurang pas, bahwa betul ada permasalahan maka dari itu kita akan melakukan identifikasi, saya belum menyampaikan bahwasanya petugas kesehatan melakukan kelalaian, karena itu nanti ada implikasi-implikasi hukum, maka dari itu kita melakukan identifikasi," kata dr. Silwanus A. Sumule, SpOG(K).,M.Kes.


Sejumlah bukti-bukti telah dikumpulkan dan kemarin sudah ada bukti yang disampaikan. "Kami akan turun lapangan, kita akan mencari tau apa penyebab permasalahannya," ucap Kepala DKP2KB Papua Tengah.


Tambahnya, kami turut berduka, ibunya meninggal dan anaknya selamat. Setelah melahirkan ada faktor-faktor resiko yang bisa menyebabkan terjadinya kematian, untuk di Indonesia ada tiga faktor.


"Yakni perdarahan, Infeksi dan keracunan dalam kehamilan. Bumil ini meninggal berdasarkan identifikasi awal kita karena adanya perdarahan," katanya.


Tambah dia, kasus kematian pasien yang berada di Kwatisore itu, pihak dinas kesehatan sudah melakukan rapat dan akan melibatkan teman-teman kesehatan, kepala dinas, kepala seksi, kepala Puskesmas, dokter dan penanggung jawab di situ.


Masih ada perbaikan-perbaikan layanan kesehatan yang harus dilakukan dan berkolaborasi dengan teman-teman di kabupaten Nabire.


"Dari identifikasi masalah terdapat banyak faktor, misalnya ketersediaan obat-obatan dan juga pemahaman masyarakat terkait kehamilan resiko tinggi, sarana prasarana dan penunjang lainnya serta kompetensi dari petugas kesehatan," ujarnya.


Kepala DKP2KB PPT mengharap kejadian seperti itu tidak boleh berulang, di kampung tersebut ada kurang lebih 1.000 penduduk dan hitung-hitungan kita ada sekitar 22 sampai 25 ibu hamil. Harapan kita juga dari 25 Bumil tersebut tidak boleh ada kejadian kasus kematian seperti yang terjadi.


Tanggal 30 Juli 2024 DKP2KB akan kesana dan sekaligus melakukan peninjauan lapangan serta memberikan layanan kesehatan.


"Program yang kita lakukan itu melakukan review kenapa ibu ini bisa meninggal, penyebab meninggalnya ada banyak faktor, tetapi kami akan turun lapangan dan akan mengikut sertakan teman kepala-kepala seksi dan juga dari dinas kesehatan. Kami baru ketemu dengan tim, dan kami berharap hari Selasa 30 Juli 2024 kita sudah mengidentifikasi," tandasnya.(edi)