NABIRE - Mbah Joko, pemilik usaha Agualux Girimulyo, yang juga bergerak di bidang pengumpul daur uang sampah plastik tutup galon air dan juga botol bekas oli yang sudah dua kali berturut-turut mengirimkan 25 ton daur ulang sampah tersebut.

Namun dalam perjalanan menekuni usaha daur ulang sampah itu, dirinya terus gagal, lantaran antara biaya kerja dan pengiriman barang hasil yang didapat selalu tidak sesuai dengan pendapatan.

Sehingga pada saat berdiskusi dengan wartawan Papuapos Nabire, Selasa (18/2/2025), Mbah Joko selaku pemlik usaha mendaur ulang sampah ingin adanya campur tangan pemerintah soal pasar dan juga penyediaan sarana dan prasarana.

Untuk itu, dirinya berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, juga Provinsi Papua Tengah membantu soal pembelian sampah daur ulang dengan CSR yang sudah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup RI.

“Dan mau jujur saja selama dua kali pengiriman sampah yang sudah didaur ulang, hanya terkendala di biaya pengiriman dan pasar yang tidak jelas dan apabila barang sudah sampai, selalu saja ada alasan dari pembeli masih basah dan untuk sampah plastik botol Aqua dan sejenisnnya harus sudah dipres,” katanya.

Sehingga lewat media Papuapos Nabire, pihaknya memohon adanya dukungan Pemerintah Kabupaten Nabire dan juga Pemprov Papua Tengah, karena sampai saat ini belum ada pihak yang mengelola sampah secara baik dan di mana-mana selalu juga dikeluhkan soal sampah.

Untuk itu, selaku pengumpul sampah daur ulang, Mbah Joko meminta bantuan dukungan dari pemerintah soal jaminan pasar yang resmi dan juga bantuan dukungan modal usaha, karena sudah dua kali pengiriman sebanyak 25 ton daur ulang sampah yang didapat antara pengeluaran dan pendapatan selalu tidak sama.(des)