Kajian Ilmiah Pers (12) Unsur Ontologi dalam Pers
NABIRE - Seorang wartawan perlu mencapai level pemahaman ilmu hikmat paling tinggi yakni ontologi. Didalamnya kita akan diajak memahami segala sesuatu dari sisi adanya (wujud/eksistensinya).

NABIRE - Seorang wartawan perlu mencapai level pemahaman ilmu hikmat paling tinggi yakni ontologi. Didalamnya kita akan diajak memahami segala sesuatu dari sisi adanya (wujud/eksistensinya). Ada itu berserikat pada segala sesuatu, sehingga dia itu tunggal. Ada itu bertingkat sehingga keberadaannya itu bergradasi, terkheirarki atau terlevelesasi.
Adanya Tuhan sebagai sebab dan adanya selainnya sebagai akibat. Dan segala bentuk keberadaan terkait esensi bergerak dalam gerakan substansi. Dalam pada itu segala jiwa yang bergerak menuju sumbernya adalah gerakan menuju cahaya. Sedangkan sebaliknya adalah gerakan substansi menuju kegelapan.
Dimanakah pena seorang wartawan akan diletakkan, ketika setiap kondisi, keberadaan, dan fenomena metafisika ini ada dalam satu entitas Bangsa Indonesia? Bangsa yang DNA-nya adalah Falsafah Pancasila. Kembali ketika lewat rahim pena Pers bangsa ini dikandung sebelum lahirnya. Seorang wartawan Indonesia harus memahami dan mengalami, bahwa dirinya adalah bagian yang mendapat kemerdekaan menulis dan mempertanggungjawabkan tulisannya.
Di dalam pandangan ontologis, seorang wartawan tak lagi berjarak dengan subjek yang ditulisnya. Karena ia berada dalam eksistensi tunggal, sebagai akibat atau makhluk. Sedangkan keberadaan Tuhan sebagai sebab dan pencipta.
Hanya saja setiap keberadaan yang terikat bahan (maddah) dan bentuk (surah/forma) memiliki kondisi khususnya masing-masing.
Dengan pemahaman ontologis, seorang wartawan akan menjadi bagian dari gerakan perubahan bangsanya. Dan setiap substansi jiwa akan menjadi garis star untuk memulai segala pergerakan itu. Bahkan peradaban manusia, mengalami gerakan peradaban. dimana disana keadilan dimenangkan atau dikalahkan.
Realitas-realitas kehidupan manusia, secara ontologis, dapat dilihat dari neraca keadilan. Kalau kacamata keadilan telalu universal lihatlah dari kuat dan lemahnya hegemoni antar-manusia, atau antar bangsa-bangsa. Seorang wartawan melakukan otokritik terhadap bangsanya, negaranya, masyarakatnya, sebagai bentuk evaluasi atas dirinya sendiri. Ilmu hikmat ini tidak diajarkan di universitas yang segala ukuran pondasi pengetahuannya adalah indrawi semata.(amd)
Bagikan artikel ini



