NABIRE - Kenapa bisa dikatakan bahwa objek berita bagi seorang wartawan sejati bisa melebihi jumlah ikan di laut atau bintang di langit ? Karena benak pikiran manusia (abstraksi) tidak terbatas pada mahiah atau esensi alami, melainkan mengangkut konsep-konsep metafisika. Ketika subjek teologi yang dibahas adalah Tuhan yang metafisis, maka seluruh afirmasinya adalah seluruh sifat-Nya dan seluruh pekerjaan-Nya (af'al). Ketika afirmasi pada-Nya adalah Sang Esa, maka Ketunggalan eksistensi-Nya adalah meliputi segala sesuatu. Mengandung dan menopang segala sesuatu.

Sedangkan konsepsi-konsepsi mahiah (esensi) yang tersebar di alam, adalah bidang-bidang kategori yang kemudian ditampung pada pelbagai disiplin ilmu (terminologi) dari hasil logika induksi peradaban ilmiah manusia. Maka setiap disiplin ilmu, dalam perjalanannya mengumpulkan kesimpulan-kesimpulan (konklusi) dalam bentuk proposisinya yang idiomatik.

Langit atau cakrawala pers, berada pada jalur logika deduktif yang memberi nilai pengetahuan pada setiap konsepsi dasar tema-tema kehidupan dan kemasyarakatan. Sebagai sang wartawan sejati, bisa atau tidak bisa mampu atau tidak mampu, harus tetap berada pada pijakan intrepetator yang layak. Terutama untuk menjaga Pers Kebangsaan, dimana seseorang larut (zibghah) dalam sebuah adonan yang tumbuh dari Genetika Falsafah Pancasila.

Maka dari itu, turut Munib, wartawan sejati tidak akan pernah mati dalam aliran jaman apapun. Kondisi kekinian (kiwari) Dewan Pers sedang berupaya menjadikan wartawan suci bak malaikat. Sedangakan kondisi Pers Dotkom, realitasnya adalah Humas. Tak bisa tidak, makan Pers sebagai anggapan umum yang tercatat dalam buku Falsafah Ratu Dunia karangan Adi Negoro - simbol kewartawanan Indonesia, harus diperkuat oleh Pers Bernilai Pengetahuan atau Pers Epistemologis.

Bagi sang wartawan sejati dia tak akan gentar oleh minimnya objek berita. Karena nilai-nilai pengetahuan akan deras mengalir dari sumbernya, yakni konsepsi dan afirmasi. Apalagi unsur ontologi dalam Pers menyangkut jiwa seorang wartawan sejati yang memakrifati dirinya dan perannya.

Bahwa suatu jiwa dapat bangkit bergerak setelah cakrawala ilmu dan jiwa tercerahkan dan dapat menggembalakan bangsanya. Kekosongan besar bangsa ber-DNA Falsafah Pancasila ini adalah tersedianya pemikiran filosofis yang terus berkembang dalam kehidupan warga bangsanya.

Tentu kekosongan ini adalah peluang luar biasa kedepan. Satu hal yang paling penting adalah adanya majlis, atau ruang waktu, dimana seorang guru Pers duduk bersama para murid Pers. Dalam sebuah misi khusus Pers Kebangsaan, sehingga warga bangsa dapat mencapai apa yang dicita-citakan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tertulis dalam konstitusi kita.

Walhasil, tutur Munib, mustahil orang berilmu tidak dapat mengatasi dunianya, sedangkan akhiratnya saja dapat teratasi. Yakni ketika kita dapat melihat hakikat zaman dan pergerakannya. Untuk itu perlu terus menjaga kesadaran akal di tengah hiruk pikuk puncak kekacauan proxy dan hoax. "Tantangan dunia Pers saat ini memang sangat berat. Tapi bukan berarti kita harus takluk," ujarnya.(amd)