Kajian Ilmiah Pers (21) Wartawan Tidak Boleh Jadi Calo Kebenaran
NABIRE - Seperti banyak sekali terjadi pada agama-agama, penceramah jadi calo yang mengklaim bahwa dia sudah menemukan kebenaran sehingga orang lain yang dia anggap umatnya itu perlu untuk mengikuti kebenaran yang ia merasa telah temukan itu.

NABIRE - Seperti banyak sekali terjadi pada agama-agama, penceramah jadi calo yang mengklaim bahwa dia sudah menemukan kebenaran sehingga orang lain yang dia anggap umatnya itu perlu untuk mengikuti kebenaran yang ia merasa telah temukan itu.
Tidak sampai disitu, bahkan dia merasa hanya dia dan kelompok yang mengikutinya lah yang benar dan orang lain yang tak sama pemikiran dengannya sesat. Mereka ini padahal hanya calo kebenaran yang tak tahu tentang bagaimana pola pengetahuan dan bagaimana pola wahyu bekerja.
Abdul Munib menjelaskan, fenomena calo kebenaran tidak boleh terjadi dalam praktik kewartawanan. Bahkan jika seorang wartawan harus mencari pusaka Burhanus Sidiqin (Alat Penyingkap Hikmat), ia harus mencari dan menemukannya agar apa yang dipikirkan dan ditulisnya bisa mendekati kebenaran. Hanya mendekati. Karena kebenaran mutlak dan segala cakrawala rahasia hanya Tuhan yang Maha Esa yang mengetahui.
Rasionalitas dan Wahyu keduanya dari Tuhan yang dikaruniakan pada manusia. Tak mungkin ada Wahyu jika tak ada yang layak diseru. Misalkan Wahyu menyeru kambing atau hewan primata lainnya, itu tak mungkin. Sebagaimana juga potensi akal dia tak akan mampu menggapai fitrah maksimal manusia untuk menjadikannya Al Insan Kamil, Manusia Adiparipurna. Jika tak ada Wahyu, maksimalnya akal akan hanya terjebak dalam teori akal dewa-dewa. Dimana seorang tak mendapatkan sarana fisik berupa nabi sebagai manusia sejarah. Atau perjalanan seorang filsuf tanpa Irfan yang jalan tertatih dengan kaki kayu.
Rasionalitas fitrahnya membangun peradaban ilmu pengetahuan sepanjang jaman, di segala bidang sebagai alat bisa survive bagi manusia. Sedangkan Wahyu Tuhan dikirim kepada manusia agar manusia dapat menjadikan jiwanya layak untuk memegang alat ilmu dan teknologi itu. Kelayakan itu dituntut dari manusia oleh karena pada dirinya ada dua penerang, yakni akal dan Wahyu. Sebagaimana di cakrawala langit fisika ada dua penerang bulan dan matahari, di langit metafisika juga ada akal dan Wahyu.
Di tangan seorang wartawan ada pena yang akan digunakan menulis. Setiap tulisan wartawan adalah pernyataan interprestasif dirinya sebagai ahli setelah ia melakukan rentetan panjang hipotesa dan verifikasi (observasi, konfirmasi, investigasi, klarifikasi maupun riset dokumentasi).
Meski telah melakukan uji analisa dari liputan atau hunting di lapangan yang melelahkan tetap seorang wartawan tak boleh jadi calo kebenaran yang merasa dirinya lebih tahu, paling tahu apalagi sok tahu. Segala jerih payahnya hanyalah ibarat cahaya senter dipekatnya kegelapan malam gulita.
Di setiap akhirnya tulisan yang dibuatnya sambil menulis inisial atau namanya sebagai pertanggungjawaban, seorang wartawan hendaknya berkontemplasi. Membatin atau ngrentes, bahwa cuma segini yang aku fahami tentang realitas, sebatas yang bisa dimengerti atau hayati. Buang kesombongan bahwa kita telah menemukan kebenaran.
Tapi, kata Munib, menjadi wartawan itu paling gampang dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Saratnya cuma satu, terus mau belajar. Dan membawa sikap rendah hati dalam setiap tulisannya. (amd)
Bagikan artikel ini



