NABIRE - Siapakah sebenarnya manusia itu? Ini adalah pertanyaan paling penting bagi kehidupan manusia di hari dunia dan kelak di hari pasca dunia. Para ahli sufi yakin, jika seseorang telah mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Maka dalam rangka makrifat diri, setiap orang perlu kepada pertanyaan diatas dalam rangka tahu terhadap sisi obyektif manusia.

Secara objektif manusia adalah primata yang memiliki rasionalitas. Kesamaan karakter dengan simpanse dan bonobo marjin of erornya dibawah dua persen. Pembeda satu-satunya manusia memiliki rasionalitas.

Rasionalitas atau akal budi pada manusia menimbulkan pola dua sisi koin, kemerdekaan disatu sisi dan tanggung jawab disisi lain. Rasionalitas itu seperti sebuah titipan atau lebih tepatnya amanat. Yang konon, langit, bumi, gunung enggan menerimanya ketika dulu sekali tawaran itu pernah diasongkan pada mereka. Jadi secara objektif manusia adalah hewan berakal, yang dituntut agar rasionalitasnya dapat mengendalikan hasrat hewaninya.

Rasionalitas manusia dalam perjalanan peradaban dan budaya melahirkan jejak keilmuan oleh karena akal manusia membuat etape yang tidak naik bagi setiap kategori disiplin ilmu dengan konklusi-konklusi hasil berfikir induksi. Sisi objektivitas manusia adalah alat berupa ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara sisi subjektivitas manusia, merupakan entitas substanai berupa jiwa yang dapat naik kepada kemuliaan maupun terjerumus ke bawah ke dalam jurang kejinaan. Jiwa manusia adalah pihak yang kepadanya diserukan risalah yang dibawa para nabi. Sejauhmana jiwa yang diseru itu menghampiri atau malah berpaling dari seruan Tuhan untuk kembali padaNya.

Dari sisi wahyu manusia mempersiapkan kemampuan sebagai pihak penerima, seperti persiapkan gelar karpet merah, untuk mencerna wahyu sedapat masing-masing menghayati pesan. Dalam jejak perjalanannya sepanjang dunia adalah upaya permenungan, dalam suka dan duka, bersedih dan tertawa, berdamai dan perang tercatat dalam tulisan features. Karena tulisan jenis ini hedak menziarahi kemanusiaan.

Tulisan features dalam pers, menurut Abdul Munib, adalah tulisan yang memblowing kemanusiaan. Citarasa manusia harus dapat dihadirkan dalam tulisan features. Lebih lanjutnya

tulisan features didedikasikan untuk menziarahi kemanusiaan manusia.(amd)