Kalian Ilmiah Pers (14) Rahasia Jawa Pos Menceritakan Berita
NABIRE - Dalam beberapa kesempatan Pak Bos, demikian Dahlan Iskan biasa dipanggil oleh karyawannya yang dulu berasa di seantero Indonesia, menyatakan bahwa genre yang penulisan Jawa Pos adalah apa yang Dahlan sebut sebagai Genre Menceritakan Berita.

NABIRE - Dalam beberapa kesempatan Pak Bos, demikian Dahlan Iskan biasa dipanggil oleh karyawannya yang dulu berasa di seantero Indonesia, menyatakan bahwa genre yang penulisan Jawa Pos adalah apa yang Dahlan sebut sebagai Genre Menceritakan Berita.
Alkisah, kata Dahlan, ia mendapat rekaman seorang agen koran Jawa Pos yang bertindak juga sebagai agen kata-kata dalam perang pemasaran Jawa Pos terutama dengan Kompas Group. Dalam rekaman itu dikisahkan keluhan Kompas yang kerepotan menahan laju kencang di pasaran. Seorang agen memberitahu, bahwa tulisan Kompas kurang disukai pembaca karena memberitakan berita. Tapi Jawa Pos lain, ia menceritakan berita.
Budaya tutur seperti dongeng di jaman dulu ternyata cukup kuat dalam tradisi masyarakat kita. Untuk itu, genre menceritakan berita mendapat posisi yang pas dalam masyarakat membaca di era pers industri atau industri pers. Meminjam istilah dari agen koran tadi, Dahlan menemani genrenya dengan nama menceritakan berita. Itu salah satu rahasia sukses Jawa Pos dari sisi produknya.
Demikian Munib menceritakan dunia penulisan pers dari rumah lamanya dulu Jawa Pos. Menurutnya warisan yang baik itu perlu dirawat, meskipun hari ini pers digital penuh dengan perlombaan kecepatan yang diisi berita-berita spotnews. Tulisan gaya bertutur ini punya kelebihan membuat pembaca hanyut dalam relaksasi, alias tidak tegang.
Ciri khas tulisan Genre Jawa Pos ini antara lain lugas. Tidak indoktrinatif. Memberi warna suasana alamiah yang kuat. Melibatkan jiwa pembaca kedalam suasana faktual yang dipotret oleh tulisan. Egaliter seperti kultur Jawa Timur. Mirip seperti tampilan Dahlan yang sederhana. Dahlan sendiri adalah sosok pembelajar tingkat dewa. Kecerdasan seperti ini biasa muncul dari suatu hadiah kemurnian alam atau kemurnian langit tarekat orang tuanya. Seperti pada Bung Hatta. Namun fenomena ini akan lewat begitu saja tanpa ada orang yang menyusun metodologinya dan para pengikut genre Gahlanian ini.
Seperti tradisi penulisan Tempo yang merupakan gabungan dari investigasi, pendalaman berita dan analisa berita yang biasa ditampilkan dalam bentuk khas Tempo, laporan utama. Tempo memiliki tradisi dapur redaksi yang dibukukan dalam 'Jika Saya Wartawan Tempo' seperti Kompas menulis tradisi dapurnya dalam Vedemekum Wartawan. Karakter Tempo adalah Karakter Gunawan Mohamad, seperti halnya karakter Jawa Pos adalah karakter Dahlan Iskan. Sehingga Tempo tanpa Gunawan dan Jawa Pos tanpa Dahlan, terasa menjadi lain.
Hal itu tidak terjadi pada Kompas. Yacob Utama sendiri unik seperti Kompas itu sendiri. Dia seorang Katolik yang korannya hidup di pasaran masyarakat muslim. Bahkan ketika koran Republika hendak mencitrakan media muslim, dia gagal. Kompas dapat merubah diri ke dalam televisi pada Kompas TV, dan ceruk adsense diambil alihnya melalui Tribun Dotkom dan flat form YouTube. Kompas juga punya pondasi Gramedia, yang dapat membranding secara kuat dari sisi kesan ilmiah. Halaman empatnya yang bercirikan opini atau ilmiah populer tak terkalahkan sampai sekarang.
Tapi pertarungan belumlah selesai. Pers baru akan lahir sesuai jamannya. Manakala Indonesia maju dengan menemukan kembali genetika Falsafah Pancasila, maka anasir yang datang dari barat akan pelan-pelan rontok.(amd)
Bagikan artikel ini



