Masyarakat Sani Tolak Perdamaian, Sampaikan Pernyataan Sikap
NABIRE – Masyarakat Sani di Intan Jaya menolak perdamaian yang direncanakan oleh Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni yang akan dilaksana
Bagikan
NABIRE – Masyarakat Sani di Intan Jaya menolak perdamaian yang direncanakan oleh Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat dengan menyampaikan beberapa pernyataan sikap. Hal ini seperti disampaikan Obaya Sani yang mengaku tokoh adat dalam siaran persnya yang diterima media ini Jumat malam kemarin dan Anton Sani selaku tokoh pemuda Intan Jaya.Alasan penolakan perdamaian tersebut, terang kedua sumber itu saat didamping 2 rekannya, pertama karena mereka telah melepaskan lahan untuk pembangunan dan perkantoran pemerintah selama masa bupati caretaker 3 tahun dan bupati definitif 5 tahun yang dipimpin Natalis Tabuni, tetapi beliau tidak pernah menghargai dalam sisi penempatan birokrasi bahkan tidak pernah hargai sebagai jabatan pemilik hak ulayat.“Kami juga telah memberikan kesempatan selama 5 tahun untuk beliau (Bupati Intan Jaya) kerja, namun beliau gagal membangun Intan Jaya. Kami sudah sabar banyak namun sekarang kami tidak bisa sabar lagi dalam hal ini beliau tidak memberikan kesempatan kepada kami marga Sani, sehingga kami tolak perdamaian dan pembangunan, biar beliau membangun di Biandoga, Homeyo atau tempat lain yang menurut beliau cocok,” tegasnya.Kalau boleh perdamaian yang direncanakan oleh tim Natalis Tabuni setelah pelantikan eselon/pengisian jabatan, karena selama 5 tahun mereka mengaku sudah mengenal keaslian Bupati Natalis. Oleh sebab itu, pengisian jabatan harus dapat dipikiran secara profesional dan bijaksana.“Kalau tidak ada jaminan bagi kami masyarakat Sani kami tolak bupati, kami tolak pemerintahan dan pembangunan serta 5 tahun tidak boleh memimpin di Intan Jaya,” tulis Obaya Sani seraya menilai kalau mau perdamaian harus ada forum resmi dan melibatkan semua pihak agar perdamaian di Intan Jaya tercapai.Selanjutnya, tulis dia, perdamaian mereka tolak sebelum pelantikan jabatan karena mereka merasa sudah mengenal keaslian bupati sehingga mereka tidak percaya semua bahasa jaminan yang sementara ini beliau (bupati) berikan kepada mereka. “Kami tidak butuh jaminan, tetapi butuh kenyataan,” tandasnya. Bila hal ini diabaikan, imbuh mereka, tidak tau apa yang akan terjadi kedepan. “Hal ini Bupati Intan Jaya jangan abaikan, kedepan bupati mau bawah masyarakatnya di 3 desa yang ada di Intan Jaya ke mana. Hal ini perlu pikir baik secara dewasa dan kebapakan. Seorang pemimpin harus dapat merangkul semua dengan baik,” pungkasnya.(wan)
Bagikan artikel ini



