Tujuh Tahun di Jalan Pengabdian: Catatan Perjalanan Asir Mirip sebagai Sekda Intan Jaya
“Menjadi Sekda bukanlah perjalanan yang selalu berjalan di jalan yang mudah,” demikian refleksi Asir.

Pagi 19 Agustus 2019 mungkin tampak seperti hari biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Asir Mirip, S.Pd., M.Si., tanggal itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai aparatur pemerintahan.
Di Aula Guest House Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, ia berdiri menerima amanah sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Intan Jaya. Sebuah jabatan yang secara administratif berada di jantung pemerintahan daerah, tetapi dalam kenyataannya menuntut jauh lebih dari sekadar kemampuan mengelola birokrasi.
Hari itu, di hadapan pimpinan daerah dan jajaran pemerintahan, Asir menerima tugas yang kelak membawanya melewati tujuh tahun perjalanan penuh warna.
Kini, 19 Agustus 2026, tujuh tahun telah berlalu.
Waktu yang cukup panjang untuk mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu berjalan di atas jalan yang mulus. Ada keberhasilan yang menghadirkan rasa syukur, tetapi ada pula kegagalan yang memaksa seseorang belajar dari keterbatasan. Ada pujian yang menguatkan, namun ada kritik yang mengingatkan agar tidak terlena.
Dan di antara semuanya, ada satu hal yang tetap sama: amanah.
Jabatan Bukan Sekadar Kebanggaan
Bagi Asir, menjadi Sekda sejak awal bukanlah tentang kebanggaan menduduki sebuah posisi. Jabatan adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara, masyarakat, pemerintah daerah dan, yang paling utama, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pandangan itulah yang menjadi pijakan selama menjalankan tugas.
Tujuh tahun menjadi Sekda membuatnya memahami bahwa pemerintahan bukan hanya tentang aturan, surat keputusan, rapat, angka dalam dokumen anggaran atau tumpukan administrasi yang harus diselesaikan.
Di balik semua itu ada manusia.
Ada aparatur yang harus dibina. Ada masyarakat yang menunggu pelayanan. Ada kepentingan yang harus dipertemukan. Ada perbedaan pandangan yang harus dikelola. Ada keputusan yang terkadang harus diambil dalam situasi sulit.
“Menjadi Sekda bukanlah perjalanan yang selalu berjalan di jalan yang mudah,” demikian refleksi Asir.
Ada masa ketika pekerjaan terasa ringan karena dukungan banyak pihak. Namun, ada pula saat ketika sebuah keputusan harus diambil dalam tekanan, dengan berbagai konsekuensi dan risiko yang harus dipertanggungjawabkan.
Dari situlah ia belajar bahwa memimpin administrasi pemerintahan tidak cukup hanya dengan memahami regulasi.
Seorang pejabat, menurutnya, harus mampu memahami manusia, mendengarkan berbagai kepentingan, menjaga komunikasi dan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan ketika keadaan menuntut.
Ketika Tidak Semua Orang Memahami
Perjalanan tujuh tahun juga mengajarkan satu kenyataan yang mungkin sederhana, tetapi tidak selalu mudah diterima: tidak semua kebaikan akan langsung dipahami.
Tidak semua keputusan akan menyenangkan semua orang.
Dan tidak semua perjuangan akan terlihat.
Di tengah dinamika pemerintahan, Asir memilih berpegang pada prinsip yang menjadi semacam kompas dalam menjalankan tugasnya.
“Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, berjalanlah sesuai aturan, jangan takut menghadapi tantangan, dan serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.”
Prinsip itu menjadi pegangan ketika dukungan datang, maupun ketika kritik dan perbedaan pendapat harus dihadapi.
Sebab dalam pemerintahan, keputusan yang benar menurut aturan belum tentu menjadi keputusan yang menyenangkan bagi semua pihak. Di situlah seorang pejabat dituntut untuk tetap berdiri pada tanggung jawabnya.
Penghargaan yang Datang Bersama Tanggung Jawab
Dalam perjalanan kariernya, Asir juga menerima kepercayaan negara melalui kenaikan pangkat hingga Golongan IV/e.
Kenaikan tersebut diberikan melalui kenaikan pangkat luar biasa atas dasar kinerja dan pengabdian oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta Pusat.
Bagi Asir, Golongan IV/e bukan sekadar angka dalam jenjang kepegawaian.
Di baliknya ada proses panjang, kerja keras, tanggung jawab, tekanan, pengorbanan waktu dan doa yang mengiringi perjalanan sebagai aparatur negara.
Namun, penghargaan itu tidak membuatnya ingin berdiri lebih tinggi dari orang lain.
Sebaliknya, ia melihat pencapaian tersebut sebagai pengingat bahwa semakin tinggi kepercayaan negara, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Pangkat bukanlah akhir perjalanan. Ia justru menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Mengakui Kekurangan
Tujuh tahun tentu menyisakan catatan keberhasilan. Tetapi Asir tidak menutup mata bahwa masih ada kekurangan dalam perjalanan tersebut.
Ada program yang belum selesai.
Ada harapan masyarakat yang belum seluruhnya dapat diwujudkan.
Ada keputusan yang mungkin belum mampu memuaskan semua pihak.
Atas semua kekurangan itu, ia menyampaikan permohonan maaf.
Bukan sebuah kalimat formal seorang pejabat, melainkan refleksi seorang aparatur yang menyadari bahwa perjalanan pemerintahan tidak pernah sempurna.
Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan penghargaan kepada para pimpinan daerah, pimpinan dan anggota DPRK, Forkopimda, pimpinan OPD, kepala distrik, ASN, tenaga honorer, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh masyarakat Kabupaten Intan Jaya yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Ia berterima kasih kepada mereka yang memberikan dukungan.
Namun, ia juga mengingat mereka yang memberikan kritik.
Sebab, baginya, kritik yang disampaikan dengan niat baik bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Kritik justru dapat menjadi cermin untuk memperbaiki diri dan mengingatkan seorang pemimpin ketika berada di jalur yang keliru.
Tujuh Tahun Bukan Akhir
Tanggal 19 Agustus 2026 menandai tujuh tahun perjalanan Asir Mirip sebagai Sekda Kabupaten Intan Jaya.
Tujuh tahun mengabdi.
Tujuh tahun belajar.
Tujuh tahun menghadapi suka dan duka.
Tujuh tahun menjaga amanah.
Namun, baginya, perjalanan itu belum selesai.
Selama negara masih memberikan kepercayaan dan Tuhan masih memberikan kesehatan serta kekuatan, ia ingin terus bekerja dan memberikan pengabdian terbaik bagi Kabupaten Intan Jaya dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia tidak tahu berapa lama perjalanan pengabdian itu akan berlangsung.
Tetapi ia memahami satu hal: setiap jabatan memiliki waktunya, setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap perjalanan pada akhirnya akan menjadi sejarah.
Karena itu, di penghujung catatan tujuh tahunnya, Asir memilih sebuah harapan sederhana.
“Saya tidak ingin dikenang hanya karena pernah menduduki sebuah jabatan. Saya ingin dikenang karena pernah berusaha memberikan yang terbaik selama diberi kesempatan untuk mengabdi.”
Kalimat itu menjadi penutup sebuah refleksi, sekaligus pembuka bagi perjalanan berikutnya.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti. Ruang kerja akan ditinggalkan. Nama akan bergeser dalam struktur pemerintahan.
Tetapi jejak pengabdian akan tetap tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan kehadiran seorang aparatur di tengah masyarakat.
Dan bagi Asir Mirip, mungkin itulah makna sesungguhnya dari tujuh tahun perjalanan tersebut:
Bukan jabatan yang membuat seseorang besar, melainkan bagaimana ia menjalankan amanah ketika jabatan itu dipercayakan kepadanya.
19 Agustus 2019 – 19 Agustus 2026.
Tujuh tahun mengabdi. Tujuh tahun belajar. Tujuh tahun menjaga amanah.
Salam pengabdian. ***
Bagikan artikel ini



