NABIRE - Sejumlah warga Kampung Waroki mengadu di Kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah terkait persoalan aksi pemalangan, pengancaman, anarkisme, pencurian dan pembakaran dua rumah warga Kampung Waroki 19 Juni 2024 lalu.


Dan aksi yang sama kembali terjadi pada 6 Agustus 2024 dengan dibakarnya rumah Nelly Andoi dan rumah Dorteis Bisararisi di Jalan Poros Wadio-Waroki yang diduga dilakukan oleh oknum /kelompok dari Suku Mamberamo.


Akibat dari aksi tersebut, anak-anak tidak bersekolah selama lebih dari satu bulan, Puskesmas setempat belum ada pelayanan, gereja dan masjid sepi dan tidak ada yang beribadah.


"Masyarakat pada akhir-akhir ini atau sekitar sebulan menderita luar biasa, dan tidak ada ibu-ibu yang tinggal di Kampung Waroki, yang tinggal itu hanya bapak-bapak saja tetapi mungkin hanya tiga, empat orang, karena mereka jaga punya rumah, kalau mereka keluar, pasti ada pencurian di sana dan itu terjadi, suku ini panah ayam, panah anjing, langsung curi, akhirnya kami membuat satu kesepakatan bersama bapak mereka ini untuk jalankan hal ini," ujar Bonai selaku Warga Waroki.


Tidak hanya itu, kesempatan berbicara juga diberikan kepada Adomina Windesi selaku warga Kampung Waroki. Dirinya menyampaikan keluh kesahnya dihadapan Pj gubernur atau yang diwakili Plt Sekda Provinsi Papua Tengah, yang mengeluh persoalan anak-anak yang sudah tidak bersekolah.


"Kami sedih, kami masyarakat biasa ini hanya bisa mencari makan, terus kami mau kemana, kami punya suami hanya iris bobo, mencari di laut, terus kami diancam atau diteror terus dari bulan Juli sampai sekarang. Kami punya anak-anak tidak ada yang berani ke sekolah, kami sudah tidak ada uang, numpang di keluarga di kota tidak mungkin kami harap keluarga kasih makan kami, sebagian kami kontrak, kami mau mengadu kemana lagi, tetapi kami bersyukur," ungkap Adomina dengan rasa sedih.(joseph)